Category Archives: Resensi

Wajah Islam Ideal dalam Novel Ayat -Ayat Cinta 2

Standar

Kisah Fahri dan Aisha kembali menjumpai pembaca pada Ayat – Ayat Cinta 2. Penulis novel ini, Habiburahman El Shirazy menahbiskan kisah perjalanan hidup Fahri sebagai novel pembangun jiwa. Tidak berlebihan jika penulisnya berharap novel ini bisa menjadi media pembangun jiwa pembacanya. Banyak hikmah yang bisa dipetik dari pemikiran dan tingkah laku Fahri saat menyikapi berbagai masalah yang muncul ketika berinteraksi dengan beragam kalangan.

Novel setebal 690 halaman ini terdiri atas 42 chapter. Chapter pertama dibuka dengan judul Bayang – bayang Maria, Puisi Aisha, dan Gesekan Biola Keira. Dalam chapter ini digambarkan Kota Edinburgh, Skotlandia, sebagai latar cerita. Fahri yang sudah lulus sebagai doktor melanjutkan postdoc-nya di University of Edinburgh. Ia melanjutkan hidupnya tanpa Aisha, sang istri, karena Aisha, hilang tanpa kabar di Palestina saat mengunjungi kota itu bersama temannya, wartawati berkebangsaan Inggris. Bertahun – tahun Fahri mencari istrinya, tetapi sang istri seperti ditelan bumi. Fahri kemudian melanjutkan hidupnya bersama kenangan tentang Aisha yang membanjiri hati dan pikirannya.

Meskipun sangat tipis bisa berjumpa lagi dengan Aisha, Fahri tetap sulit membuka hati untuk pendamping hidup yang baru. Kegalauan Fahri terhadap keberadaan istrinya tetap menjadi misteri hingga chapter tujuh. Di chapter delapan, pembaca yang jeli akan menemukan beberapa petunjuk tentang keberadaan Aisha meskipun masih sangat samar.

Habibburahman, sang penulis, menggambarkan sosok Fahri sebagai sosok nyaris sempurna. Ia berakhlak mulia dan berkelimpahan materi. Ia dermawan, rupawan, dan cendekiawan. Di titik ini, sulit sekali menemukan tokoh serupa Fahri di dunia nyata. Mungkin dalam diri Fahri, penulis menitipkan harapan – harapannya tentang idealisme sosok Muslim yang seharusnya.

Dari beberapa karya Habibburahman yang pernah saya baca, seperti Ketika Cinta Bertasbih, Ayat -Ayat Cinta 1, dan Mihrab Cinta, Habibburahman menceritakah tokoh utama sebagai lelaki dengan sisi kemanusiawian yang nyaris tanpa cela. Mungkin -sekali lagi- Fahri adalah gambaran harapan penulis terhadap akhlak seorang Muslim yang sebenarnya.

Novel bergenre roman religius ini ditulis dengan gaya bahasa deskriptif dan lugas. Gaya bahasanya mengalir sehingga cepat selesai. Konflik utama dalam novel ini tetap pada pencarian batin Fahri tentang keberadaan istrinya. Konflik – konflik pendampingnya bercerita tentang kebencian beberapa orang tetangganya terhadap Fahri karena ia Muslim. Selain itu, disajikan pula penjelasan tentang konflik Israel – Palestina sebagai gambaran obsesi Yahudi terhadap penumpasan kaum Amalek yang tertulis dalam kitab suci mereka.

foto cover.jpg

Di beberapa bagian novel,ada pembahasan tentang perbandingan agama yang menambah wawasan pembaca. Diskursus teroris yang dilekatkan pada ajaran Islam dijelaskan dengan sederhana, tapi mengena oleh Fahri saat ia mengajar di kelas Filologi. Pembahasan tentang obsesi Yahudi menumpas kaum Amalek pun dijelaskan dalam beberapa halaman di chapter 27.

Cara penulis menyelesaikan konflik demi konflik terasa sangat sempurna. Meskipun kesannya kurang realistis jika dibenturkan dengan dunia nyata, novel ini memberi energi positif bagi pembacanya. Energi harapan tentang Islam yang ramah dan mulia. Kejelian penulis terhadap pembacanya membuat buku ini laris bak kacang goreng.

Setiap bulannya, buku ini berhasil mencetak angka penjualan rata – rata empat ribu eksemplar. Buku ini sangat pas dibaca oleh siapa saja. Pesan – pesan kemuliaan akhlak yang disampaikan tokohnya bisa menjadi cermin bagi para pembacanya dengan latar belakang agama apa pun.

 

Iklan