Monthly Archives: Oktober 2016

Menyusun Resume Kekinian

Standar

           Resume pekerjaan sebenarnya adalah etalase awal bagi para pelamar kerja dalam memperkenalkan dirinya. Oleh karena itu, penting bagi para pelamar kerja untuk membuat resume pekerjaan yang khas sehingga meninggalkan kesan kuat bagi staf  HRD suatu perusahaan yang membacanya.

            Jika saat ini Anda sedang membuat resume pekerjaan, mulailah merancang sendiri resume Anda. Hentikan kebiasaan salin tempel dari banyak resume yang Anda jumpai di mesin pencari atau resume Anda sebelumnya. Jadikanlah berbagai contoh resume di mesin pencari itu sebagai panduan untuk membuat resume khas Anda.

Hasil gambar untuk menulis resume

job-like.com

Perubahan trend yang berkembang di dunia kerja dari waktu ke waktu seharusnya diikuti pula oleh teknik penyusunan resume pekerjaan. Salah satu contohnya adalah pemasangan foto di resume pekerjaan. Dulu, foto yang dipasang biasanya pas foto ukuran 3×4 atau 4×6 dengan ekspresi wajah formal cenderung kaku. Kini, bagian HRD sudah terbuka dengan ekspresi lebih segar dalam foto yang dipasang di resume pekerjaan.

 

Hasil gambar untuk menulis resume

job-like.com

Demikian pula dengan isi resumenya, Anda sebagai pelamar kerja harus lebih teliti dalam menjelaskan diri Anda agar tidak terkesan klise. Berikut ini ada beberapa kata yang seharusnya tidak dicantumkan dalam penyusunan resume pekerjaan.

 

            Pertama, kata “pekerja keras” harus Anda hindari. Dalam bekerja, tentu setiap orang wajib bekerja keras agar hasil pekerjaannya bagus dan target tercapai. Sifat ini bukan dituliskan, melainkan dibuktikan.

            Kedua, jangan menuliskan “dapat bekerja dalam tim”. Dalam bekerja, tentu setiap pekerjaan akan dilakukan dalam tim, Jadi, mau tidak mau, Anda harus siap bekerja dalam tim. Ingat juga! Jangan cantumkan kata tersebut jika Anda adalah seorang fresh graduated yang di atas kertas belum mempunyai pengalaman bekerja di dalam tim.  Sebaiknya sebagai seoang frsh graduated, Anda menjelaskan proyek yang sudah dikerjakan dalam tim saat masih di kampus.

            Ketiga, jika Anda ingin menyampaikan pesan bahwa Anda adalah orang yang bekerja teliti dan cermat, hindari memilih kata “berorientasi pada detail”. Karena dengan memilih kalimat tersebut, maknanya bisa dua hal : teliti atau tidak bisa membagi fokus. Tentu Anda tidak ingin meninggalkan kesan tidak bisa membagi fokus bukan? Sebaiknya, pilihlah kelebihan lain untuk mengesankan bagian HRD agar yakin Andalah orang yang mereka butuhkan.

            Keempat, banyak pelamar kerja mencantumkan kata “bertanggung jawab” dalam resumenya. Sifat bertanggung jawab sudah seharusnya dimiliki oleh pelamar kerja sebagai bukti kesungguhannya dalam bekerja. Lagipula, sifat bertanggung jawab akan terlihat dalam hasil tes psikotes selain akan terbukti pada saat bekerja. Agar perusahaan mengetahui Anda adalah seorang yang bertanggung jawab, sampaikan pengalaman Anda jika pernah menjadi ketua panitia atau memimpin sebuah proyek sebelumnya.

Kelima, hindari mencantumkan nilai gaji yang diinginkan dalam resume Anda. Nilai gaji biasanya dibicarakan pada saat wawancara kerja bukan di resume.

Demikian beberapa tips menyusun resume kekinian. Tulislah dengan objektif, hindari penggunaan kata yang bisa menjadi bumerang untuk Anda saat HRD mempelajari resume Anda. Mari mulai merapikan dan memperbaiki resume kita. Semoga sukses memperoleh pekerjaan yang diidam-idamkan demi hidup yang bahagia dan sejahtera.

 

If You Feel Over Worry

Standar
Pernahkah Anda merasa sangat khawatir tentang sesuatu? tentang seseorang? atau tentang masa depan? Saya kira sebagian dari kita pasti pernah mengalami itu. Merasa sangat khawatir tentang masa depan dan merasa tidak berdaya terhadap sesuatu yang akan terjadi.

Ketidakberdayaan adalah akar dari kekhawatiran tak berujung. Seringkali ketidakberdayaan itu berujung pada keputusasaan; kehilangan harapan. Apalah artinya menjalani hidup tanpa harapan? Bukankah harapan adalah kesibukan kehidupan selain keinginan?

Harapan membuat hidup kita lebih hidup. Harapan identik dengan hal-hal positif. Hidup dengan harapan membuat kita bersemangat untuk melangkah maju terus dan terus. Namun, kadangkala ada yang  bilang jangan terlalu berharap jika tak ingin sakit. Saya kira segala sesuatu yang terlalu memang tidak baik. Hidup itu sakmadyanya saja, begitu nasihat orangtua. Berharap secukupnya, berkeinginan secukupnya, dan khawatir secukupnya.

Hasil gambar untuk don't worry
                                                   marciaconner.com

Namun, adakalanya kita terjebak pada kondisi yang sangat tidak nyaman. Kondisi yang membuat kita begitu khawatir sehingga merasa sangat tidak berdaya. Jika Anda saat ini ada pada kondisi tersebut, cobalah praktikkan beberapa tips berikut :

1. Hang out dengan teman-teman akrab Anda.
Bercerita dan tertawalah bersama mereka. Singkirkan kekhawatiran           yang sedang melanda. Dari pelepasan sementara itu, akan ada saran             yang bisa Anda pertimbangkan untuk mengurangi atau menyelesaikan       kegundahan.
2. Menonton acara-acara komedi, film lucu, atau membaca buku-buku           ringan, seperti komik untuk menyegarkan hati.
3. Colouring books
Maraknya buku-buku mewarnai dengan berbagai tema bisa menjadi            media pelepasan sementara untuk menyegarkan pikiran. Saat Anda              mewarnai, emosi-emosi negatif bisa luluh dalam setiap warna yang            Anda poleskan pada gambar.
4. Fokus pada hal-hal yang ada di depan Anda.
Ada hal yang harus dilakukan dan diselesaikan dalam waktu dekat.              Lakukan segera jangan ditunda. Satu pekerjaan selesai lanjutkan                    pekerjaan lainnya sehingga tak ada waktu lagi untuk khawatir.
5. Mengubah visi hidup
Mungkin sudah waktunya Anda mengubah visi jika visi yang Anda miliki    saat ini malah membuat Anda merasa tertekan.
6. Segelas minuman favorit dan pejamkan mata Anda.
Teguk minuman favorit Anda pelahan, tarik napas dalam-dalam, dan          embuskan pelahan. Nikmati udara di sekitar dan rasakan                                  ketenangannya.
7. Berserah kepada Tuhan
Manusia berencana, Tuhan menentukan. Yakinlah tak ada cobaan yang        Ia berikan melebihi kemampuan kita.

Hasil gambar untuk don't worry
linkedin.com

So, don’t worry, be happy. Bayangkan emoticon smile yang ceria itu. Warna kuning dengan garis lengkung lebarnya membuat kita ceria dan bahagia lebih lama, terus..dan terus…
Bahagia adalah hak siapa pun dan apa pun di alam semesta. Termasuk Anda 😉

Sinergi Hati dan Pikiran Saat Menulis

Standar

Menulis sebaiknya memang dengan hati. Tulisan yang dihasilkan akan terasa hidup dan menyentuh siapa pun yang membacanya. Namun, dalam praktiknya, tidak semua tulisan bisa mengalir lancar saat ditulis dengan hati. Pikiran pun berperan penting. Bedanya, jika menulis berdasarkan pikiran belaka, hasil tulisan akan kaku dan tak bernyawa.  Karena itu, dibutuhkan peran hati dan pikiran saat kita menulis.

Kerangka tulisan biasanya disusun berdasarkan logika berpikir.  Agar tulisan sistematis, perlu dipikirkan urutan penyampaian ide dalam setiap bab sehingga tidak melompat-lompat atau tumpang tindih. Saat kerangka tulisan atau dikenal juga dengan sebutan outline selesai, peran pikiran digantikan oleh hati. Apakah sepenuhnya demikian? Ternyata tidak.

Kita bisa menyampaikan kegelisahan hati atau rasa penasaran atau asumsi awal tentang suatu hal yang menarik perhatian dalam kalimat utama. Di situlah peran hati. Selanjutnya dalam menjelaskan isi kalimat utama, pikiran berperan mengatur keruntutan penyampaian agar pembaca memahami ide-ide yang ingin kita sampaikan.

Maka dari itu, menulis bukan aktivitas setengah hati atau setengah berpikir. Menulis adalah aktivitas yang melibatkan hati dan pikiran bekerja sama; bersinergi agar tercipta karya yang bisa memengaruhi dan memberi pemahaman terhadap pembacanya.

Apakah keterlibatan hati dan pikiran berlaku juga pada karya fiksi? Jawabannya : tentu saja. Jangan dikira menulis fiksi lebih mudah ketimbang menulis nonfiksi. Kesannya menulis fiksi sama dengan bercerita pada diary. Padahal tidak demikian. Menulis fiksi berarti membangun cerita berdasarkan delapan unsur intrinsiknya, yaitu alur, penokohan, perwatakan, latar, gaya bahasa, sudut pandang, tema, dan amanat.

Delapan unsur intrinsik itu wajib dipenuhi. Tak boleh ada satu pun yang tercecer atau sengaja dihilangkan.  Konflik, alur, dan ending cerita menjadi tiga unsur yang wajib ditentukan saat kerangka tulisan dibuat. Mengapa demikian? Agar kita tidak kebingungan menentukan cerita dan mengelola konfliknya saat menulis secara utuh.

Fiksi identik dengan rekayasa. Sebagian orang malah menganggap menulis fiksi bisa suka-suka kita akan membuatnya seperti apa. Ternyata dalam proses kreatifnya tidak selalu bisa suka-suka. Bukankah sebenarnya karya fiksi lahir dari kegelisahan para penulis terhadap kondisi masyarakat? Jika ditelaah lebih dalam, karya-karya fiksi keren yang berhasil memengaruhi peradaban manusia adalah buah kecerdasan dan kekritisan para penulis menyampaikan sikapnya.

Semua ide yang tertuang dalam tulisan diramu dengan kata hati sehingga menghasilkan karya yang bisa menginspirasi sekaligus memengaruhi pembacanya. Tentu sebagian dari kita masih ingat pengaruh karya Multatuli, Saijah dan Adinda, terhadap kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Karya yang menceritakan penderitaan masyarakan Hindia Belanda akibat sistem tanam paksa memaksa Belanda menetapkan politik etis yang terdiri meliputi :

  1. Irigasi (pengairan), membangun dan memperbaiki pengairan-pengairan dan bendungan untuk keperluan pertanian.
  2. Emigrasi yakni mengajak penduduk untuk bertransmigrasi.
  3. Edukasi yakni memperluas dalam bidang pengajaran dan pendidikan.

Meskipun tidak diterapkan sepenuhnya di lapangan, kebijakan politik etis ini sedikit banyak menimbulkan perubahan bagi masyarakat Hindia Belanda.

Sementara di abad ke-21 ini, kita membaca lebih banyak buku yang berhasil menginspirasi dan memengaruhi masyarakat. Sebutlah beberapa judul, seperti Saman, Laskar Pelangi series, Hafalan Surat Delisa, Supernova series, Ayat- Ayat Cinta, Cantik Itu Luka, dan sebagainya. Belum lagi ditambah judul-judul buku fiksi anak yang turut mewarnai khasanah kekayaan alam pikiran para pembacanya.

Kecemerlangan karya-karya itu berkat sinergi antara hati dan pikiran. Hati meenjadi pelita bagi pikiran dalam menuangkan ide-idenya. Sementara, pikiran menjadi pengukur keruntutan alur tulisan agar tetap logis dan runtut. Karena itu, dibutuhkan konsentrasi penuh saat menulis. Aktivitas ini tak bisa dilakukan sambil lalu. Saat jari-jari kita mengetik tuts-tuts keyboard, hati dan pikiran kita mengumpulkan konsentrasi untuk menyusun kata dan menciptakan alur yang sistematis, hidup, dan logis.

 

doc : pribadi

Agar bisa fokus menulis,  beberapa hal  yang harus disiapkan dan dilakukan

 

  • Kondisi fresh saat hendak menulis.
  • Minum air putih yang cukup.
  • Selesaikan dulu semua pekerjaan rumah.
  • Pastikan Anda sudah banyak membaca bahan tentang tema yang akan ditulis.
  • Singkirkan gawai dari jangkauan Anda.
  • Menulislah di tempat sepi agar fokus Anda tidak mudah terganggu.

2      Anda yang rajin menulis pasti bisa menambahkan jika ada yang kurang. Selamat melanjutkan menulis ^^