Monthly Archives: April 2016

Sang Aktivis

Standar

Namanya amat populer di komunitas menulis, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Ketiklah nama naqqiyah syam di mesin perambah Google. Kita akan membaca namanya ada di banyak laman. Sebutlah sedikit kesibukan dari sekian banyak kegiatannya atau sebutan yang melekat padanya : mantan Ketua FLP Lampung, BPP FLP Pusat, writerpreneur, dan Ratu Antalogi Sumatera. Yang terakhir itu wow banget, hehehe.. Ibu dari dua jagoan cilik ini memang sudah terlibat kurang lebih dalam tiga puluh buku antologi. Karena itu, wajar jika ada yang memberinya gelar Ratu Antologi Sumatera. Mantap, Mbak *dua jempol*

naqisyam

Saya berteman dengannya di Facebook sejak tahun 2011. Kami memang takpernah saling menyapa secara pribadi, tapi saya sering membaca status – statusnya di Facebook. Selain status yang ditulisnya, saya juga membaca berbagai kegiatan yang diikutinya di banyak tempat dari kabar -kabar yang men-tag-nya di laman Facebook. Begitulah, meskipun tak saling kenal dalam arti sesungguhnya, saya merasa sudah akrab dengan naqqiyah syam. Itulah efektivitas kerja media sosial. Peribahasa tak kenal maka tak sayang mungkin bisa diganti dengan tak kenal pun bisa sayang, hehehe . . .

Perempuan kelahiran Jambi ini beberapa bulan lagi akan genap berusia 36 tahun. Kalau menurut versi Sukarno, Sang Proklamator, perempuan usia 36 tahun itu seperti India. Mereka menyembunyikan banyak sekali kisah misterius. Mungkin di perjalanan usia ke – 36 tahun, Naqqiyah Syam akan semakin cemerlang menggali potensinya dari sekian banyak kisah misterius yang ia punya, disadari atau tidak. Maju terus Mbak Naqqi! Teruslah menulis dan membagi karya – karya inspiratif untuk peradaban dan kemanusiaan.

 

Remaja Menulis

Standar

Hari ini saya mengajar di kelas XI IPA. Temanya tentang film. Sayangnya, saya lupa membawa film yang akan kami tonton di kelas. Rencananya saya akan mengajak siswa kelas XI IPA menonton film keren Dead Poet Society yang dibintang aktor hebat almarhum Robin William.

Sejenak saya menimbang – nimbang apa yang harus saya lakukan di kelas agar materi film ini menarik. Saya harus mencari cara lain karena beberapa minggu lalu, kami baru saja belajar drama. Sementara pokok bahasan film pun sama dengan pokok bahasan drama di dua bab ini. Keduanya membahas tentang unsur – unsur intrinsik dan ekstrinsik. Isinya tetap sama.

Saya pikir jika saya membahas film dengan materi yang sama seperti saat membahas drama, siswa akan bosan. Setelah memutar otak, saya putuskan meminta siswa menceritakan kembali film yang mereka tonton.

Agar rencana berjalan lancar, saya menyediakan berlembar -lembar kertas untuk mereka. Kalau mereka diminta mengeluarkan kertas sendiri, alasannya pasti banyak dan rata -rata akan bilang,”Wah, nggak punya kertas,Bu.”

Saat saya minta mereka menceritakan kembali film paling berkesan yang pernah ditontonnya, ada yang menawar untuk bercerita secara lisan saja. Nah kalau lisan, yang ada hanya segelintir orang akan bercerita panjang lebar. Siswa – siswa pendiam hanya akan bercerita dalam sepatah dua patah kata. Kalau ingin para pendiam ini bercerita banyak, saya harus bertindak seperti pewawancara. Bertanya ini itu agar mereka mau menggali kenangannya.

Ide meminta para siswa menulis ternyata ide bagus, menurut saya sih.hehehe…Ketika kertas sudah diterima, semua siswa fokus menulis menuangkan ingatan dan kesan – kesannya.

kelas menulis.jpg

doc.pribadi.

Melihat mereka menulis rasanya hati saya adem sekali. Yah, meskipun ada yang mendadak googling untuk merefresh kembali film yang pernah ditontonnya, saya mengapresiasi usahanya.  Sayang, saya tak sempat memotret hasil tulisan mereka. Oh ya, dua orang di belakang yang sedang mengobrol itu sudah menyelesaikan tulisannya. Jadi, saya biarkan mereka berbisik – bisik bercerita.

Remaja memang seharusnya menulis. Di usia full energy ini, mereka pasti punya banyak kegelisahan, keinginan, harapan, dan imajinasi yang mungkin melampaui ruang dan waktu. Sayang sekali jika gagasan -gagasan brilian menguap begitu saja.

2iparb2

doc.pribadi

Mengamati wajah – wajah serius mereka menggerakkan pena atau pensilnya membuat saya membangun harapan besar pada para calon pemimpin ini. Di pundaknya, 10 -15 tahun yang akan datang, negeri ini dititipkan.

Saya selalu yakin dengan menulis kita bisa belajar mengenali diri sendiri. Karena saat menulis, kita berdialog dengan diri sendiri. Menulis tidak sekadar bercerita, menulis adalah media meluruskan logika berpikir, memperkaya kosa kata, dan menyusunnya dengan sistematis.  Karena bagi saya, tak ada yang tak bisa dijelaskan dengan kata -kata. . .

Ernawati Lilys, Aku Menulis maka Aku Ada

Standar

Banyak cara agar bisa eksis di dalam kehidupan, salah satunya lewat tulisan. Banyak orang populer karena tulisan, salah satunya adalah Ernawati Lilys. 

Tulisannya bisa dibaca secara rutin di ernawatililys.com Ibu dua anak ini menuangkan sebagian pemikirannya di blognya itu.  Sebagian pemikirannya yang lain bisa dibaca di banyak buku yang sudah terbit, di media cetak, dan di laman. Erna, biasa ia disapa, pun mengarsipkan semua karya dalam blognya.

Panglima tangguh

doc. http://www.ernawatililys.com

 

Cover_Kuliah vs Kuli-ah

doc. ernawatylilys.com

 

Wanita kelahiran Kota Hujan ini memang sangat aktif. Ia tak ingin membiarkan ide -ide yang lalu lalang di hati dan pikirannya menguap begitu saja. Oleh karena itu, di samping tugas utamanya sebagai istri dan ibu, Erna mengisi waktu luangnya dengan beragam kegiatan menulis. Ia menulis buku fiksi dan nonfiksi, mulai dari buku anak – anak, remaja hingga parenting.

“Aku menulis maka aku ada” menjadi gambaran aktivitas menulis Erna. Dengan menulis, Erna mengukuhkan keberadaan dirinya. Dengan menulis, ia menyampaikan harapan – harapannya pada dunia.

foto ernawatililys

Menulis sebenarnya bukan hanya sebagai cara menuangkan ide, harapan, atau pemberitahuan eksistensi, melainkan juga sebagai terapi psikis yang efektif. Kegiatan menulis sangat membantu kita melepaskan energi negatif sehingga hati dan pikiran kembali lapang. Mengapa? Karena saat menulis, sebenarnya kita sedang berdialog dengan diri sendiri. Agar dialognya berhasil, menulislah dengan jujur.

Seorang bijak pernah berkata, “Menulislah dengan hati lalu sunting kemudian dengan pikiran.” Tuliskan apa saja yang ada di benak kita. Tulis saja tanpa harus mempertimbangkan pilihan kata, susunan kalimat, EYD, kata baku, dan sebagainya. Ketika tulisan sudah selesai, endapkan dulu lalu sunting dengan pikiran untuk mencermati pilihan kata yang bernas dan pas.

Karenanya, mari menulis. Kita tuangkan semua gagasan dalam tulisan agar tak menguap bersama udara. Agar hati lapang, pikiran tenang, dan logika pun jalan.