Monthly Archives: Maret 2016

Friends Are Connected

Standar

friendshipMalam ini, setelah blog walking, iseng kuketik namaku di mesin pencari Google. Ada beberapa foto yang kupasang di Kompasiana, di WordPress, dan Facebook. Namaku sendiri sebagian besar tercatat di beberapa keanggotan komunitas yang sebagian besar sudah terbengkalai tak pernah kujenguk lagi. Selain itu, namaku muncul di beberapa toko buku online. Ya iyalah, toko – toko buku itu menjual beberapa buku tulisanku dan buku kumpulan soal SBMPTN hasil kerja bareng tim.

Kutelusuri lagi, kutemukan ada namaku di blog seorang sahabat lama. Hal menarik dari cerita pertemuanku sekira lima tahun lalu itu adalah komentarnya tentangku. Katanya, “ Itulah seorang Sugi Siswiyanti. Seorang kawan yang hidupnya sangat penuh perjuangan dan kekeraskepalaan dengan prinsipnya sendiri haha..”

Komentar yang hanya satu kalimat itu pelan melemparku ke kenangan masa lalu. Kenangan nyaris tujuh tahun lewat. Ia teman baikku. Kusebut teman baik, sahabat lama, atau adik. Sebenarnya sih aku yang lebih sering kekanak – kanakan ketimbang dia meski seringnya ia kupanggil “Dede”. Selama hampir dua tahun masa tugasku di kantor cabang Sukabumi, ia lah temanku mengisi sebagian waktu di ratusan hari itu. Teman berbagi keluh kesah, harapan, impian, dan teman yang kadang menegurku dengan sangat keras. Teman yang asyik dan menyebalkan sekaligus. Teman jalan dan teman duduk. Kedekatan kami ini menimbulkan dugaan teman –teman kantor kalau ada hal istimewa di antara kami. Aku sih santai menyikapi itu, gosip itu kuanggap angin lalu. Kukira ia pun begitu. Ternyata meskipun tak menganggapnya serius, ia mencatat gosip itu dalam hati.

Selama bekerja di tempat ini, berpindah – pindah dari kota ke kota, selain dia, ada seorang lagi yang kupanggil ‘Adek”. Adek yang ini teman sekantorku sekarang. Ini panggilan tulus karena aku merasa orang –orang ini memang adik sekaligus teman baik. Jadilah dua orang yang kulekatkan panggilan “Adek” pada mereka : AM dan VY.

Kalau VY, panggilan itu kulekatkan karena ia memanggilku “ Teteh” sejak ia sering bertanya tentang apa itu Filsafat dan mengapa aku memilih belajar Filsafat di bangku kuliah. Setelah itu, kami bisa mengobrol tentang apa saja, tentang banyak hal, yang penting ataupun tidak. Aku baru tau nama aslinya setelah sekian bulan atau malah setahun kemudian ya? Lupa, hehehe…Meskipun sekarang sudah tahu nama aslinya, aku tetap memanggilnya Dek VY. Alasannya tidak ideologis: lebih singkat saja ^^

Sementara panggilan Dede kepada AM karena ikutan orang –orang rumahnya yang memanggilnya demikian. Jadi, bertahun – tahun silam, AM pernah mengajakku bertandang ke rumahnya. Aku lupa dalam rangka apa waktu itu. Sore sepulang kantor, ia mengajakku ke rumahnya dia daerah apaa gitu di Sukabumi. Kami naik angkot sebentar kalau ga salah. Setelah turun angkot, kami menyusuri gang yang berkelok – kelok sebelum tiba di rumahnya.

Ibunya menyambutku dengan ramah. Bapaknya biasa saja khas bapak –bapak pada umumnya, cool. Aku lupa berapa kali ke rumahnya. Kalau ga salah ingat, aku pernah istirahat di kamarnya sepulang jalan – jalan dari Curug Sawer. Wallahualam, ingatan datang dan pergi, simpang siur terutama berbagai peristiwa di Sukabumi. Kenangan tentang kota itu campur aduk rasanya. Langkah awalku memutuskan hal mahapenting dalam hidup yang membuat perjalananku seperti sekarang ini.

Anyway, balik lagi ke kisah Dede AM. Ibunya mengira aku adalah pacarnya karena katanya baru kali itu ia mengajak teman perempuan ke rumahnya. Aku cuma nyengir dan tertawa geli waktu dia cerita tentang itu. Kami sangat dekat. Seorang teman pernah bilang kalau ia bergabung dengan kami, ia merasa kami seperti punya dunia sendiri. Ia merasa ada di ruangan berbeda meski sebenarnya ia ada di samping kami. Aku tak merasakan demikian. Yang kurasakan ia teman ngobrol yang seru. Teman ngobrol apa saja mulai dari hal serius sampai hal sangat privat.

foto sukabumi

Baginya, mungkin aku pun demikian. Kami punya cerita super rahasia yang hanya kami berdua yang tau. Cerita yang memang hanya bisa dibagi dengan sahabat tepercaya. Dan buatku, dia orang yang sangat tepat. Dia takpernah menjudge meski kalau komen kadang pedes dan bikin panas telinga. Begitu pula denganku, apa pun yang pernah dilakukannya, aku tak pernah menjudge dia begini begitu. Mungkin saking shocknya denger cerita hidupnya sampai ga bisa menjudge. Hahaha..

Kami taklagi intens berbagi cerita setelah aku meninggalkan Sukabumi tahun 2010. Beberapa bulan kemudian, ia mendapat pekerjaan baru dan pindah dari tempat kami bekerja. Bertahun- tahun kemudian, kami benar – benar sibuk dengan hidup masing – masing. Sesekali kulihat foto –foto jalan – jalannya ke berbagai tempat. Aku jadi ingat impian dan harapannya dulu. Kulihat satu demi satu diwujudkannya impian dan harapan itu. Bahagia dan bangga melihatnya meski kadang sebel juga soalnya ia takpernah menyapaku kecuali ada hal luar biasa penting yang akan disampaikan.

Dugaanku bener juga. Selain pesan Whatsapp-nya yang mengomentari foto profil keluarga kecilku di sana, Februari lalu ia mengabari sudah bertunangan. “Resepsinya Mei. Kamu harus datang,” undangan itu membuatku tersenyum bahagia. Alhamdulillah, pengganti kenangan itu sudah ditemukan. Kuusahakan datang ke hari bahagianya. Sebagai sahabat, sebagai mantan teman kerja, dan sebagai orang yang pernah sebentar jatuh cinta padanya. Untuk yang terakhir, sepertinya dia tidak menyadari itu. Tidak penting maka wajar tak disadari hehehe …

Iklan

Menikmati Hidup Ala Muna Sungkar

Standar

Pepatah lama bilang, “Banyak jalan menuju Roma.”

Tanpa mengurangi rasa hormat pada pencetusnya yang entah siapa, pepatah ini saya ubah menjadi, ” Banyak cara untuk menikmati hidup.”

Ada yang menikmati hidup dengan berbelanja barang mahal dan bermerek. Ada yang menikmati hidup dengan berwisata kuliner. Ada yang menikmatinya dengan menghabiskan waktu bersama pasangan. Ada juga yang menikmatinya dengan jalan – jalan. Manakah yang sesuai dengan Anda?

Adalah Muna Sungkar. Ia menyebut dirinya Momtraveler. Itulah caranya menikmati hidup. Mengunjungi berbagai tempat dengan daya tarik yang disukainya. Didampingi suami dan gadis kecilnya, Muna meninggalkan jejak – jejak kebahagiaan di setiap tempat yang dikunjunginya.

Jejak – jejak  Muna Sungkar bisa dijumpai dalam tulisan – tulisan di blog Momtraveler. Ibu satu putri ini menceritakan setiap perjalanannya dalam kalimat yang mengalir dan foto – foto menarik.  Ia pun takingin menikmati setiap keindahan dan kesan dari setiap tempat seorang diri. Bersama suami dan gadis kecilnya, ia mengunjungi banyak tempat mulai dari sekadar jalan – jalan sampai pada petualangan.

Mungkin bagi gadis kecil Nadia, semua perjalanan adalah petualangan. Ia menikmati semua petualangan bersama ayah ibunya; mendaki gunung, menuruni lembah, mencecap segarnya ombak, menantang jeram, dan banyak lagi.

 

 

Nadia menantang Progo

doc. momtraveler.com

Lihatlah tawa lebar Nadia di foto itu! Ia tampak sangat bahagia. Pengalaman yang terpatri di benak dan hati Nadia adalah jejak yang ditinggalkan Muna, sang Ibu. Memandang binar mata Nadia dan celotehannya selama petualangan bagi sang Ibu juga bagian kenikmatan hidup.

Muna Sungkar bercengkerama bersama keluarganya dengan menikmati dan mensyukuri keindahan alam. Tulisan – tulisannya menghadirkan kekayaan dan kecantikan Indonesia. Ini tentu sangat bermanfaat untuk mempromosikan wisata Indonesia sekaligus sebagai inspirasi bagi keluarga Indonesia bahwa banyak tempat menarik di negeri ini yang bisa dieksplorasi.

Wajah Islam Ideal dalam Novel Ayat -Ayat Cinta 2

Standar

Kisah Fahri dan Aisha kembali menjumpai pembaca pada Ayat – Ayat Cinta 2. Penulis novel ini, Habiburahman El Shirazy menahbiskan kisah perjalanan hidup Fahri sebagai novel pembangun jiwa. Tidak berlebihan jika penulisnya berharap novel ini bisa menjadi media pembangun jiwa pembacanya. Banyak hikmah yang bisa dipetik dari pemikiran dan tingkah laku Fahri saat menyikapi berbagai masalah yang muncul ketika berinteraksi dengan beragam kalangan.

Novel setebal 690 halaman ini terdiri atas 42 chapter. Chapter pertama dibuka dengan judul Bayang – bayang Maria, Puisi Aisha, dan Gesekan Biola Keira. Dalam chapter ini digambarkan Kota Edinburgh, Skotlandia, sebagai latar cerita. Fahri yang sudah lulus sebagai doktor melanjutkan postdoc-nya di University of Edinburgh. Ia melanjutkan hidupnya tanpa Aisha, sang istri, karena Aisha, hilang tanpa kabar di Palestina saat mengunjungi kota itu bersama temannya, wartawati berkebangsaan Inggris. Bertahun – tahun Fahri mencari istrinya, tetapi sang istri seperti ditelan bumi. Fahri kemudian melanjutkan hidupnya bersama kenangan tentang Aisha yang membanjiri hati dan pikirannya.

Meskipun sangat tipis bisa berjumpa lagi dengan Aisha, Fahri tetap sulit membuka hati untuk pendamping hidup yang baru. Kegalauan Fahri terhadap keberadaan istrinya tetap menjadi misteri hingga chapter tujuh. Di chapter delapan, pembaca yang jeli akan menemukan beberapa petunjuk tentang keberadaan Aisha meskipun masih sangat samar.

Habibburahman, sang penulis, menggambarkan sosok Fahri sebagai sosok nyaris sempurna. Ia berakhlak mulia dan berkelimpahan materi. Ia dermawan, rupawan, dan cendekiawan. Di titik ini, sulit sekali menemukan tokoh serupa Fahri di dunia nyata. Mungkin dalam diri Fahri, penulis menitipkan harapan – harapannya tentang idealisme sosok Muslim yang seharusnya.

Dari beberapa karya Habibburahman yang pernah saya baca, seperti Ketika Cinta Bertasbih, Ayat -Ayat Cinta 1, dan Mihrab Cinta, Habibburahman menceritakah tokoh utama sebagai lelaki dengan sisi kemanusiawian yang nyaris tanpa cela. Mungkin -sekali lagi- Fahri adalah gambaran harapan penulis terhadap akhlak seorang Muslim yang sebenarnya.

Novel bergenre roman religius ini ditulis dengan gaya bahasa deskriptif dan lugas. Gaya bahasanya mengalir sehingga cepat selesai. Konflik utama dalam novel ini tetap pada pencarian batin Fahri tentang keberadaan istrinya. Konflik – konflik pendampingnya bercerita tentang kebencian beberapa orang tetangganya terhadap Fahri karena ia Muslim. Selain itu, disajikan pula penjelasan tentang konflik Israel – Palestina sebagai gambaran obsesi Yahudi terhadap penumpasan kaum Amalek yang tertulis dalam kitab suci mereka.

foto cover.jpg

Di beberapa bagian novel,ada pembahasan tentang perbandingan agama yang menambah wawasan pembaca. Diskursus teroris yang dilekatkan pada ajaran Islam dijelaskan dengan sederhana, tapi mengena oleh Fahri saat ia mengajar di kelas Filologi. Pembahasan tentang obsesi Yahudi menumpas kaum Amalek pun dijelaskan dalam beberapa halaman di chapter 27.

Cara penulis menyelesaikan konflik demi konflik terasa sangat sempurna. Meskipun kesannya kurang realistis jika dibenturkan dengan dunia nyata, novel ini memberi energi positif bagi pembacanya. Energi harapan tentang Islam yang ramah dan mulia. Kejelian penulis terhadap pembacanya membuat buku ini laris bak kacang goreng.

Setiap bulannya, buku ini berhasil mencetak angka penjualan rata – rata empat ribu eksemplar. Buku ini sangat pas dibaca oleh siapa saja. Pesan – pesan kemuliaan akhlak yang disampaikan tokohnya bisa menjadi cermin bagi para pembacanya dengan latar belakang agama apa pun.