Monthly Archives: Februari 2016

Menulis agar Abadi

Standar

Ada tiga hal yang membuatmu abadi: 

  1. Mempunyai keturunan
  2. Menanam pohon
  3. Menulis

(Anonim)

Bagi saya, agar jiwa dan pikiran saya tetap sehat, saya perlu menulis. Kegiatan ini sudah saya lakukan sejak duduk di bangku sekolah dasar. Saya masih ingat waktu kelas 5 SD, saya membuat buletin bergambar sampul Garfield. Dibuat di kertas buku yang saya robek bagian tengahnya. Saya lupa apa isi buletinnya. Kalau tidak salah isinya cerita tentang keseharian anak – anak SD pada umumnya. Sederhana sekali. Waktu itu buletinnya saya jual seharga Rp50,00. Ada beberapa teman yang membelinya. Setiap lihat Garfield, saya pasti ingat buletin dua lembar itu. “Kok dulu bisa ya bikin kayak gitu?” perasaan narsis saya mengagumi diri sendiri. hehehe…

Semasa SMP dan SMA, kegiatan menulis saya belum banyak kemajuan. Masih seputar buku harian dan surat menyurat dengan beberapa teman di kota lain. Mereka sahabat pena yang dipertemukan lewat surat pembaca yang saya kirimkan di Majalah Gadis. Lulus SMA, saya membulatkan tekad menjadi jurnalis. Sayangnya, orangtua tidak mendukung cita – cita itu. Agar bisa tetap menjadi jurnalis, saya memilih pers mahasiswa sebagai tempat berekspres

Pilihan yang tepat, saya kira. Di pers kampus, saya mengasah kemampuan menulis. Tidak hanya itu, saya juga mendapat banyak pengalaman batin tentang kehidupan. Di tempat ini, saya belajar menjadi smart smart writer. Di tahun keempat, saya mulai menulis skripsi. Saya merencanakan skripsi ini menjadi karya tulis yang kelak diterbitkan dalam bentuk buku. Saya berharap skripsi saya tidak berhenti di rak perpustakaan fakultas, tetapi dibaca banyak orang dari lintas ilmu; menginspirasi mereka. Namun, rencana itu hanya impian. Karena satu dan lain hal, saya harus melepas impian menerbitkan skripsi saya menjadi buku.

Selepas kuliah, saya masih menulis. Tulisan – tulisan itu meninggalkan jejaknya di beberapa buku antologi. Temanya memang bukan tentang spiritualitas, tema yang saya harap bisa saya tulis dalam buku solo saya. Saya tetap berharap kelak berhasil menulis buku solo. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saat saya singgah di BAW Community,sebuah komunitas menulis di Facebook, Leyla Hana men-share informasi tentang 1st Giveaway smart writer. Ini kesempatan yang sangat menarik karena bisa ikut kursus gratis kelas Standar smart writer. Di kelas itu, saya pasti akan menerima banyak ilmu menulis dariRiawani Elyta dan Leyla Hana.

Semoga kesempatan ini milik saya. Bagi saya, menulis bukan sekadar mengolah kata – kata. Menulis adalah meninggalkan jejak kita dalam keabadian. Menulis sama dengan  terapi; menulis berarti berbagi semangat.

Iklan

Panta Rhei, Yang Abadi Adalah Perubahan

Standar

Siang ini, ada broadcast massage masuk ke grup Whatsapp. Isinya renungan orangtua tentang betapa sempitnya waktu yang dimiliki bersama anak –anaknya. Tahu – tahu anak –anaknya sudah bukan balita lagi. Tahu – tahu mereka sudah remaja, dewasa, dan menua juga. Kekhawatiran yang muncul kemudian adalah sebanyak apa bekalyang sudah diwariskan pada anak – anak. Bekal materi mungkin bisa dihitung, tetapi bekal immateri yang seringkali kurang terdeteksi berapa banyak yang sudah kita berikan pada mereka?

Merenungi betapa cepat waktu berlalu dan mendapati anak – anak kita sudah punya acara sendiri –sendiri. Sebagian malah sudah menggendong anak lagi. Renungan yang meninggalkan perasaan haru sekaligus sedih. Haru karena banyak yang sudah dilewati dan diraih. Sedih karena kadangkala ada keinginan kembali ke masa kecil mereka; memperbaiki kesalahan – kesalahan kita sebagai orangtua.

Namun, mesin waktu hanya ada di layar kaca atau di buku – buku cerita. Yang nyata adalah pergerakan waktu yang tak bisa dihentikan barang sedetik pun. Yang bisa dilakukan para orangtua hanya menerima dan memanfaatkan sisa waktu yang dikaruniakan-Nya.

Sudah sunatullah segala sesuatu akan tumbuh dan berkembang. Segala sesuatu akan berubah dari kecil, besar, tua, lalu mati. Semua mengalaminya tanpa kecuali. Takhanya manusia, tetapi juga tumbuhan dan hewan. Waktu terasa sangat sedikit karena perubahan yang terus terjadi. Karena itu, Herakleitos mengatakan yang abadi hanyalah perubahan. Perubahan menyampaikan pesan  tak ada yang abadi. Tak ada yang abadi kecilnya, abadi tuanya, abadi menetapnya, atau abadi kemasyhurannya. Semua akan berangsur berkurang atau bertambah. Semua akan tampak sekaligus hilang. Pada intinya semua akan mati dalam berbagai konteksnya.

Seandainya setiap individu memahami ini, takkan ada kerakusan menguasai atau kesedihan kehilangan. Semua diterima apa adanya. Semua dijalani sebaik – baiknya. Orangtua akan menghargai setiap waktu bersama buah hatinya. Para pemimpin akan legowo dengan dinamika pergantian kekuasaannya.

Jika setiap individu menyadari ini, tak ada yang akan terlalu sedih, tak ada yang terlalu takut, dan tak ada yang selalu kesepian. Semua akan dirasakan bergantian. Semua akan mengalami banyak hal dengan kesadaran bahwa yang abadi adalah perubahan. Karenanya, manfaatkan setiap jengkal kesempatan dan waktu sebaik – baiknya. Namun, jika terlewat, yah sudahlah. Kesempatan baik sebenarnya datang lebih dari sekali. Tergantung usaha kita, kekuatan pikiran dan hati kita.

Janji Literasi

Standar
Janji Literasi

Banyak yang terjadi setahun belakangan ini. Pastinya sih begitu ya? ada 365 hari dan setiap jam atau harinya tidak akan sama. Yang sama mungkin temanya, tetapi isinya dari waktu ke waktu, dari hari ke hari tentu berbeda.

Sebenarnya setiap ada hal menarik yang saya alami, ingin saya tulis sini. Namun sayang, keinginan tidak berbanding lurus dengan kesempatan menuliskannya. Penyakit klasik selalu muncul setiap duduk di depan laptop : mau nulis apa ya? yang kemarin sudah lupa detailnya.

Kebetulan malam ini saya masih berkutat dengan naskah soal yang harus segera saya selesaikan karena sudah tertunda kurang lebih tiga minggu lamanya. Masalah klasik yang muncul itu tidak pandang bulu rupanya. Writer’s block, sebutan untuk masalah klasik ini, terasa tidak hanya saat akan menulis feature atau fiksi, tetapi juga saat saya akan atau sedang menyusun naskal soal. ia mampir dan menghambat pekerjaan.

Seringnya saya menyerah pada kondisi itu. Menutup jendela lalu mengalihkan perhatian pada hal lain, misalnya menonton film, berselancar di internet, atau menghabiskan waktu ngobrol bersama teman – teman kuliah di grup Whatsapp. Setelah itu, saya tidak kembali pada naskah, tetapi menutup laptop. Pekerjaan pun tertunda lagi berhari -hari bahkan bisa berbulan – bulan seperti naskah buku tes masuk Akpol dan Akmil yang sedang saya susun.

Belajar dari pengalaman tersebut, saya pikir saat writer’s block menyerang, sebaiknya saya tidak mengalihkan perhatian terlalu lama atau terlalu jauh. Saya tetap harus di depan laptop. Pengalihan perhatian harus tetap di seputar upaya mencari inspirasi untuk naskah yang sedang disusun. Maka, ini yang saya lakukan : menjenguk blog yang sudah hampir setahun tidak diperhatikan lalu mencoba menulis sesuatu.

Sesuatu itu bisa tentang apa saja. Kali ini saya ingin bercerita tentang kegiatan menulis. Awal tahun 2016 lalu, saya memutuskan tidak membuat resolusi macam -macam. Resolusi saya hanya satu : fokus menulis. Di bulan kedua tahun ini, saya berusaha keras merealisasikan resolusi saya. Saya mulai dengan konsisten mengikuti komunitas menulis di Facebook. Ada beberapa komunitas yang saya ikuti, tapi hanya satu komunitas yang saya seriusi, yakni Merah Jambu Gabungan (MJG). Pertimbangannya karena di komunitas ini semua orang pun konsisten mengirimkan tulisannya dan kami saling memberi kritik dan saran. Bagi saya, kritik saran mereka sangat bermanfaat untuk mengasah kemampuan menulis saya, terutama di tulisan fiksi.

Konsisten mengirimkan tulisan berdasarkan jadwal yang sudah ditetapkan admin grup merupakan salah satu janji literasi yang saya buat. Janji lainnya adalah rutin membaca satu buku setiap minggu. Janji selanjutnya setelah membaca adalah menulis resensinya. Jika buku yang saya baca masih baru, saya akan mengirimkan resensinya ke media massa. Namun jika itu buku lama, cukup saya tulis resensinya di blog.

Ada beberapa naskah nonfiksi yang juga ingin saya tulis. Salah satunya tentang spiritualitas N.H. DIni. Ide itu sempat meledak -ledak di pertengahan tahun 2015. Saya bahkan sempat mengontak seorang penulis yang dekat dengan N.H. Dini agar bisa dihubungkan dengan beliau. Minimal lewat surel. Namun, saya tidak bisa membujuknya agar ia mau menghubungkan beliau dengan saya. Alasannya jika tulisan saya tentang N.H. Dini akan dikirim ke media atau dijadikan buku, saya harus membayar waktu dan informasi yang saya peroleh dari beliau dengan sejumlah uang. Yah, karena asumsinya saya akan menerima kompensasi materi dari tulisan saya -jika tulisan saya dimuat- dan proses yang dialami N.H. Dini dalam berkarya selama puluhan tahun pun tidak gratis.

Akhirnya saya memilih menulis berdasarkan referensi yang saya miliki dan saya temukan ketimbang harus mewawancarai beliau dengan persyaratan itu. Bukannya pelit sih, tapi saya pikir bertemu beliau dan bertanya tentang beberapa hal yang sering lalu lalang di benak saya selama beberapa tahun terakhir ini bukan hal yang penting mendesak. Mungkin saya akan kembali menyeriusi ide ini setelah beberapa pekerjaan menulis yang penting mendesak selesai.

Janji literasi terakhir adalah menjadi blogger. Saya memang belum banyak tahu tips dan trik agar blog saya dibaca banyak orang. Saat ini yang ingin saya coba adalah mengikuti lomba – lomba blog. Dengan ikut lomba, tulisan di blog kita pasti dibaca juri. Minimal ada alamat blog kita dalam link tulisan yang mengikuti lomba. Sementara ini, itu dulu. Semoga bisa konsisten. Harapan yang sama di setiap resolusi dari tahun ke tahun : semoga bisa konsisten.

Kali ini, harapan itu saya tulis dan tanamkan dalam hati. Semoga saya bisa menepati janji ^_^