Setelah Sekian Lama

Standar

Saking lamanya nggak pernah ngurus blog, saya lupa kapan terakhir kali saya menulis di sini. Sibuk dengan deadline beberapa buku, sibuk dengan grup – grup di whatsapp, chatting di bbm, nonton serial jadul ER, dan rajin membaca kisah para tokohnya yang otomatis menjadi tokoh – tokoh favorit saya setelah menonton mereka hingga season 6 episode ke – 17 ini.

Pasti banyak yang sudah terjadi dalam perjalanan dua tahun terakhir ini. Beberapa pencapaian yang saya raih, pergulatan batin yang datang dan pergi, perenungang tentang takdir, dan hobi baru yang mampu menjadi pelipur lara, tapi juga membuat saya lupa waktu hingga target – target terbengkalai.

Rutinitas saya masih seperti nama blog ini. Saya masih mengajar di bimbel, masih berinteraksi dengan anak – anak SMP dan SMA yang datang dan pergi di setiap tahun ajaran baru. Saya masih bergelut dengan paragaraf dan tata bahasa. Namun, rasanya saya tidak bertambah pintar. Rasanya malah makin banyak yang tidak saya ketahui tentang ilmu ini. Semula saya merasa cukup banyak yang saya tahu, seiring berjalannya waktu, di tahun ke-6 saya mengajar, saya merasa ilmu saya kok makin cupet aja ya?

Soal memang masih sama, tapi saya merasa penyampaian dan pemecahan solusi yang saya dapat dari diklat atau saat rapat koordinasi pelajaran bahasa Indonesia setahun dua kali ini belum bisa menjadi solusi tepat untuk menjawab soal dengan jitu. Saya sendiri kadang masih meraba – raba jika itu soal wacana. Kadangkala saya juga merasa seperti anak – anak itu, dalam pilihan A – E atau A – D, selalu ada jawaban yang tampak sama – sama benar.

Karena itu, saya harus makin banyak belajar konsep dan latihan soal tentu. Soal – soal yang saya jumpai di buku pegangan adalah soal – soal yang sama selama enam tahun terakhir. Sama sehingga tidak menambah wawasan dan memberikan tantangan. Untuk itu, saya harus hunting soal – soal lain agar wawasan dan tantangan itu membuat analisis saya lebih tajam dan akurat.

Ah, saya mulai buntu akan bercerita apa lagi. Selama ini saya memang tak pernah lagi menulis tentang pemikiran, renungan, ide-ide baru, atau apa sajalah tulisan panjang yang biasanya saya tulis di diary. Saya terlalu disibukkan oleh buku – buku itu. Buku kumpulan soal itu menurut saya sebenarnya bukan media saya menunjukkan eksistensi sebagai penulis. Itu hanya media mencari uang tambahan untuk bayar kartu kredit, menabung, dan menikmati hidup. Nggak idealis banget ya?!

Gimana pun, saya tetap harus menghargai proses ini. Karena beberapa buku yang sudah saya tulis membuat saya mulai paham dunia penerbitan. Terhubung dengan beberapa orang dari penerbit – penerbit yang berbeda. Hal lain yang harus diapresiasi adalah saya juga belajar pelajaran – pelajaran lain. Yang saya pelajari itu memperkaya wawasan saya sebagai individu, sebagai guru, dan sebagai ibu.

Kesibukan ini membuat saya jauh tertinggal dari teman – teman yang dulu sama – sama belajar menulis prosa. Teman – teman yang saya kenal di dunia maya kini karyanya makin moncer saja. Dimuat di banyak media dan ada yang sudah menghasilkan buku. Sementara saya, masih berkutat dengan deadline dan selalu gagal menyelesaikan target karena fokus yang terbagi hingga urutan skala prioritas yang kacau eksekusinya.

Beberapa hari ini saya mulai terpikir untuk fokus menulis saja. Saya sadar kelemahan saya yang tak bisa langsung ‘panas’ saat harus menulis. Saya harus warming up dulu dan itu biasanya perlu waktu 1 – 2 jam. Setelah itu, barulah ide – ide baru atau ide-ide untuk melanjutkan naskah berhamburan. Di titik itu, biasanya, saya takpunya waktu untuk menulis lagi karena kantuk menyerang, orang-orang datang, atau sudah waktunya berangkat ke kantor.

Dari artikel kiriman teman tentang menulis, seorang penulis sukses bilang kalau setiap penulis harus memakain bagian terbaik dari harinya. Nah, kapan ya bagian terbaik dari hariku? masih sedang kupertimbangkan kapan itu. Kupertimbangkan untuk kueksekusi agar tak menyesal di kemudian hari.

Masih ada empat naskah yang belum selesai sementara deadline sudah lewat sebulan. Nggak banget kan?! Penulis macam apa ini? Ah, saya kan belum layak disebut penulis. Buku – buku saya masih buku keroyokan. Ada dua buku baru, yang saya susun sendiri, itu pun masih buku soal dan belum terbit. Entah kapan terbitnya. Saya masih harus menulis lima buku agar layak disebut penulis. Kalau lima buku itu ternyata buku – buku soal, ya sudah diterima dulu aja. Selepas itu, sembari mengatur waktu, saya akan kembali belajar menulis fiksi dan feature lagi.

Target saya setiap tahun harus ada pelatihan penambah skill yang harus saya ikuti. Oktober ini ada pelatihan menulis feature di Tempo. biayanya mahal sih 2,5 juta. Semoga bisa nabung dari fee buku dan yang lebih penting lagi, semoga mas aris mengizinkan. Target lain, setiap tahun harus ada tulisan yang dimuat di media. entah itu resensi entah itu fiksi. apa pun, harus ada tulisanku yang lolos seleksi redaksi.

Lama kelamaan blog ini harus ganti nama. Bukan lagi curhatgurubimbel, melainkan curhatcalonpenulis. Soalnya isinya curhatanku tentang kegiatan menulis bukan kegiatan mengajar. Sebenarnya banyak sih bahan curhatan sebagai guru, tapi kok ya seringnya menguap saat hendak dituliskan? memang bener nasihat yang sering diulang para penulis : tulis segera..tulis segera agar tak menguap di kepala.

Iklan

One response »

  1. Saya beli buku “taktik jitu lolos psikotes super lengkap” terbitan gramediana,2015 setelah saya baca isinya cukup menarik, prihal tata cara Wawancara maupun teknik pengerjaan soal2..tapi yang saya sesalkan adalah :
    1. kunci jawaban banyak sekali yg berbeda dgn pembahasan (contoh hal 40 no 17..pada pembahasan ‘penyempitan’=B tapi kuncinya malah A= perluasan)
    2. Soal yg salah (contoh hal 160 no 10 disitu gambar lanjutan tetapi berbeda dengan pembahasan =salah gambar)
    3. Hasil perhitungan matematika yg salah (contoh hal 90 pada pembahasan 4/4=0???)
    Dan masih banyak lagi
    Mengingat tingginya harapan masyarakat untuk dapat menyelesaikan soal psikotes dengan baik maka masyarakat membeli buku semacam ini
    TAPI apabila buku yg dibeli SALAH maka harapan untuk masuk kerja = HILANG
    mohon tanggapannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s