Monthly Archives: Oktober 2014

The Winning Team Class

Standar

Hari ini kembali saya mengajar delapan siswa di kelas bernama The Winning Team alias TWT. Kalau dari namanya sih,keren : kelompok pemenang. Pengandaiannya tentu mereka yang masuk kelas ini adalah mereka yang IQ-nya di atas rata – rata. Anak – anak yang diproyeksikan akan menduduki posisi puncak di perolehan nilai UN SMP.

Sayangnya,proyeksi itu benar – benar pengandaian. Kenyataannya, kelas TWT diisi oleh anak – anak yang orangtuanya berkantong tebal belaka. Program berbiaya tinggi ini memang berbeda dengan program reguler dan eksekutif sekalipun. Yang membedakannya adalah buku pegangan,di bimbel kami namanya Buku Koding. Buku Koding kelas TWT khusu membahas materi pelajaran yang diprediksikan keluar saat UN. Materinya juga jauh lebih banyak ketimbang yang diberikan di kelas reguler dan eksekutif.

Nah,mengingat materi yang jauh lebih banyak dan menuntut pemahaman lebih cepat,seyogyanya mereka yang masuk kelas ini, mereka yang secara akademin bagus. Selain itu, mereka dengan semangat belajar tinggi pula yang lebih tepat masuk kelas ini.

Namun, lagi – lagi itu tidak ditemukan di kelas ini. Semangat belajar delapan siswa ini rendah sekali. Alih – alih konsentrasi belajar, mereka sibuk dengan gadgetnya, mengobrol dengan teman- teman, dan yang ga nguatin obrolan atau main gadget itu diselingi jeritan empat orang siswi. Sementara empat orang siswa menyelipkan *nj**g di obrolan mereka. Owh..owh…

Saya sempat sangat gusar di pertemuan – pertemuan awal kami. Rasanya ingin saya omeli mereka atau menghukum mereka. Namun,tak ada gunanya. Alih – alih membuat mereka menjadi patuh, malah menimbulkan antipati kepada saya.

Akhirnya, dengan melapangkan dada seluas – luasnya, saya menenggang rasa setiap mengajar di kelas. Biasanya saya ajak mereka belajar sekira 20 menit. Setelah itu,mereka boleh bermain 10 menit. Sepuluh menit berlalu,saya ajak belajar lagi 20 menit lalu membahas soal kemudian bermain lagi. Oh la la. . . ini sama saja dengan mengajar di PAUD..

Sore ini,saat jeda belajar,tanpa sengaja delapan siswa ini bercerita tentang kebiasaan mengajinya. Iseng saya ajak mereka mengaji Q.S.Al Kahfi. Tiap anak membaca tiga ayat saja. Hm…meski susah diatur,mereka lancar mengaji. Saya bersyukur untuk itu. Semoga kemampuan mengajinya membimbing mereka agar selalu ada di jalan-Nya yang lurus.

Saat saya mendengarkan mereka mengaji,kadang saya memperbaiki bacaannya. Mila dan Dita komentar,”Ibu guru ngaji ya?Kok kayak guru ngaji? Yang jilbabnya lebar kayak ibu biasanya ngajar ngaji.” Ah,saya jadi malu padahal jilbab saya memendek sekarang,tidak sepanjang semasa kuliah dulu.

“Ibu bukan guru ngaji.Kan setiap muslim harus bisa ngaji dengan tajwid yang benar,”jawab saya. Jawaban yang semoga memotivasi saya dan anak – anak remaja ini agar lebih maju lagi mempelajari dan mempraktikkan ajaran Islam dari Al Quran.Semoga . . .