Stress Positif karena Menulis dan Mengajar

Standar

Banyak yang saya syukuri berminggu – minggu ini.  Ya..sekalipun belum berhasil menambah berat badan, saya tetap berlega hati menerima apa pun yang Tuhan karuniakan dalam perjalanan hidup di tahun ke – 34  ini.  Dari sekian banyak hal yang harus disyukuri, salah saatunya adalah pekerjaa. Memang sih, saya sering berkeluh kesah tentang hal – hal sepele atau hal – hal besar yang saya alami di lembaga ini. Namun, keluh kesah itu tak ke mana – mana. Ia tetaplah keluh kesah jika saya tak berusaha mengubahnya.

Saya memang tak bisa mengubah sistem atau memengaruhi teman – teman menggugat sistem. Saya mungkin bisa melakukannya, memprovokasi teman – teman. Namun, tak ada gunanya. Semua akan sia – sia, malah saya yang akan kena getahnya. Jadi, saya pikir lebih baik berjalan dalam diam. Toh tak ada yang abadi. Pasti yang tidak nyaman akan menjadi nyaman atau malah semakin tak nyaman? hehehe..Walahulam sih 😀

Karena saya tak berminat masuk dalam sistem para pejabat, saya memilih berjalan di pinggir saja. CUkuplah sebagai staf pengajar. Melakukan tugas -tugas lain selain mengajar. Yang penting saya tidak dibebani target jumlah siswa yang bikin kepala hampir pecah saking pusingnya. Lagipula, sudah banyak hal ruwet lalu lalang di benak saya, saya tak mau menambahnya lagi dengang beban – beban kantor.

Bukan asal bicara kalau saya bilang, ” menjadi pejabat di tempat ini sama saja dengan menyerahkan jiwa saya pada iblis.” Kalimat yang membuat teman saya mengingatkan bisa saja itu terjadi kelak. Hm..kalau pun kelak saya menjadi manajer, saya berharap bukan di tempat ini. Memang sih, no pain no gain. Mau gaji besar, pasti tanggung jawabnya luar biasa besar. Bahkan pengorbanannya tak bisa dinominalkan. Prinsip saya tetap sama : bekerja harus menyenangkan. Kalau sudah bikin stress, berarti sudah waktunya saya bergegas pindah ke lain tempat.

Di tempat ini, saya masih nyaman meski terkadang jenuh juga. Selama masih bisa dihandle kejenuhannya, menurut saya wajar saja. Untuk hiburan, saya menulis. Ikut lomba menulis adalah passion saya.  Membayangkan para juri membaca tulisan saya lalu menilainya menjadi bayangan yang memacu adrenalin untuk terus menulis.

Menulis membuat hidup lebih hidup. Menulis memaksa otak saya bekerja lebih cepat dan lebih tajam. Menulis membuat saya membuka setiap saluran dalam diri saya untuk peka pada segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan. Menulis membuat saya tetap membaca, menulis membuat saya merasa bermanfaat untuk orang lain. Sebenarnya mengajar pun sama.  Manfaat dan proses yang harus dilalui pun sama. Dua hal yang saling mengisi…

Tak apa saya stress setiap deadline mendekat, stress positif membuat hidup lebih maju dan bermakna lebih..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s