Monthly Archives: September 2014

Stress Positif karena Menulis dan Mengajar

Standar

Banyak yang saya syukuri berminggu – minggu ini.  Ya..sekalipun belum berhasil menambah berat badan, saya tetap berlega hati menerima apa pun yang Tuhan karuniakan dalam perjalanan hidup di tahun ke – 34  ini.  Dari sekian banyak hal yang harus disyukuri, salah saatunya adalah pekerjaa. Memang sih, saya sering berkeluh kesah tentang hal – hal sepele atau hal – hal besar yang saya alami di lembaga ini. Namun, keluh kesah itu tak ke mana – mana. Ia tetaplah keluh kesah jika saya tak berusaha mengubahnya.

Saya memang tak bisa mengubah sistem atau memengaruhi teman – teman menggugat sistem. Saya mungkin bisa melakukannya, memprovokasi teman – teman. Namun, tak ada gunanya. Semua akan sia – sia, malah saya yang akan kena getahnya. Jadi, saya pikir lebih baik berjalan dalam diam. Toh tak ada yang abadi. Pasti yang tidak nyaman akan menjadi nyaman atau malah semakin tak nyaman? hehehe..Walahulam sih 😀

Karena saya tak berminat masuk dalam sistem para pejabat, saya memilih berjalan di pinggir saja. CUkuplah sebagai staf pengajar. Melakukan tugas -tugas lain selain mengajar. Yang penting saya tidak dibebani target jumlah siswa yang bikin kepala hampir pecah saking pusingnya. Lagipula, sudah banyak hal ruwet lalu lalang di benak saya, saya tak mau menambahnya lagi dengang beban – beban kantor.

Bukan asal bicara kalau saya bilang, ” menjadi pejabat di tempat ini sama saja dengan menyerahkan jiwa saya pada iblis.” Kalimat yang membuat teman saya mengingatkan bisa saja itu terjadi kelak. Hm..kalau pun kelak saya menjadi manajer, saya berharap bukan di tempat ini. Memang sih, no pain no gain. Mau gaji besar, pasti tanggung jawabnya luar biasa besar. Bahkan pengorbanannya tak bisa dinominalkan. Prinsip saya tetap sama : bekerja harus menyenangkan. Kalau sudah bikin stress, berarti sudah waktunya saya bergegas pindah ke lain tempat.

Di tempat ini, saya masih nyaman meski terkadang jenuh juga. Selama masih bisa dihandle kejenuhannya, menurut saya wajar saja. Untuk hiburan, saya menulis. Ikut lomba menulis adalah passion saya.  Membayangkan para juri membaca tulisan saya lalu menilainya menjadi bayangan yang memacu adrenalin untuk terus menulis.

Menulis membuat hidup lebih hidup. Menulis memaksa otak saya bekerja lebih cepat dan lebih tajam. Menulis membuat saya membuka setiap saluran dalam diri saya untuk peka pada segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan. Menulis membuat saya tetap membaca, menulis membuat saya merasa bermanfaat untuk orang lain. Sebenarnya mengajar pun sama.  Manfaat dan proses yang harus dilalui pun sama. Dua hal yang saling mengisi…

Tak apa saya stress setiap deadline mendekat, stress positif membuat hidup lebih maju dan bermakna lebih..

Iklan

Ternyata Stress Itu Bermula dari Tulisan . . .

Standar

Akhirnya saya tahu apa yang cenderung membuat saya stress : deadline semakin dekat sementara belum ide masih abstrak. Dua hari lalu saya sangat bersemangat saat seorang teman mengabari ada lomba menulis eye level award 2014. Semakin semangat karena semua peserta yang mengirimkan karyanya akan mendapat voucher 250ribu dari Gramedia. Wah, ini keren sekali! Bisa belanja buku gratis itu sesuatu banget lho 😀

Nah, hari ini, saya menerima email undangan gathering dengan penerbit imprint Agromedia, Anak Kita. Undangan gathering saja sudah membuat saya antusias.  Ditambah dengan ada sesi dropbox  naskah. Huaa…semangat saya semakin menggebu. Meskipun saya hanya punya 1 stok cerita anak dan dua judul yang masih saya simpan di dunia ide. Masalahnya kemudian, saya masih gamang apa yang akan saya tulis.

Cernak siap kirim yang sudah saya print rasanya terlalu ringan kalau dikirim ke lomba eye level.  Ah, tak apa. Masih ada waktu sepuluh hari untuk menggali ide lalu menuliskannya. Yang jadi pikiran dan membuat saya termangu adalah alur cerita untuk Fari dan Botol Susu Ajaib yang harus selesai sinopsisnya besok. Besok? Yup, karena hari Sabtu harus diserahkan ke penerbit saat gathering. Rasanya gelisah – gelisah sedaap, hahaha…Masalah saya hanya satu, tapi ruwet : disiplin!

Bunda Peri, Ary Nilandari, sudah memberi saran tentang apa saja yang harus saya tulis dalam sinopsis. Oh iya, tahun lalu, Uni Dian Iskandar pun sudah mengirimi saya contoh sinopsis miliknya yang diikutsertakan dalam lomba nulis apaa gitu, saya lupa. Sebenarnya media untuk belajar sudah ada, tinggal dipelajari dengan penuh konsentrasi. Menulis 30 halaman dalam sehari? semoga saya bisa!