Monthly Archives: Agustus 2014

Kelas Pasif

Standar

Beberapa puluh menit lagi saya harus masuk kelas itu lagi. Kelas XII SMA yang pasifnya bikin mati gaya. Dua kali saya mengajar di sana, rasanya detik bergerak lambat sekali. Meskipun tidak menghitung setiap detaknya, jarum jam itu seolah -olah berdetak mengikuti langkah kaki saya dari depan kelas ke sudut -sudut kelas.

Biasanya, saya senang mengajar kelas XII SMA karena mereka sudah paham atau lebih mudah paham kata -kata rumit atau enak diajak diskusi tentang isyu -isyu terkini. Ternyata, kelas ini berbeda. Dua puluh kursi diisi 12 siswa pendiam dan 8 siswa pendiam juga. Tugas gurunya agar membuat mereka agak rame di kelas.

Materi kali ini susah -susah gampang. Materi tentang penalaran, di dalamnya dibahas metode penarikan simpulan secara induktif dan deduktif. Yang deduktif cenderung lebih sederhana. Sementara yang induktif, materinya lebih banyak dan perlu variasi contoh agar anak lebih paham.

Umm…saya belajar materi ini dulu deh. Meskipun dulu sudah saya pelajari di kampus, terlebih karena saya jurusan Filsafat, seharusnya materi penalaran sudah mendarah daging dalam diri saya. Sayangnya, kadang logika yang saya pakai terbalik maka saya harus belajar lagi. hehehe…

Saya sangat percaya bahwa skill mengajar sebenarnya didukung penguasaan materi yang optimal.

200722041326-1971

rethinking

Standar

“Love your job, but don’t love your company.”  ( Dr. APJ. Abdul Kalam )

Pesan yang sangat inspiratif sekaligus teguran untuk para pekerja. Cintai pekerjaan Anda, tapi jangan cintai perusahaan tempat Anda bekerja.

Pesan itu menegur saya  juga menimbulkan pertanyaan, “Apa yang membuat saya tetap di tempat ini selama hampir enam tahun?”

Apakah saya benar -benar menyukai pekerjaan saya sebagai guru?

Apakah saya benar – benar menikmati menjadi guru?

Atau saya tetap di sini karena saya malas bergerak mencari peluang baru?

Atau alasannya karena saya harus membayar banyak tagihan sehingga saya takbisa ke mana – mana?

Setelah saya pikir dan pertimbangkan, jawaban untuk alasan saya tetap ada di tempat ini adalah saya ingin mencoba bertahan di sini selama sepuluh tahun. Setelah itu, mungkin saya akan mengepakkan sayap pergi ke tempat lain. Wallahualam…

Mengajar; bicara di depan kelas, berkomunikasi dengan remaja belasan tahun mulanya perlu penyesuaian yang cukup sulit untuk saya. Di tahun kedua,ketiga, dan keempat, saya masih menikmatinya.

Namun, di tahun ke-5, saya merasakan kejenuhan yang cukup menguras semangat. Saya mulai kehilangan kenikmatan mengajar.  Saya bosan. Belum lagi tambahan pekerjaan administrasi yang menyita waktu. Meng-entry data kehadiran siswa, men-entry data hasil promosi ke sekolah-sekolah, memeriksa kuis siswa, pembahasan dan promosi di sekolah, meng-entry hasil obrolan dengan siswa yang disebut dengan student intimacy, peneleponan kepada orangtua siswa jika ada event lembaga, dan membantu kerja marketing membujuk siswa mengajak teman atau saudaranya yang belum ikut bimbel agar bimbel di tempat kami.

Jadi, ketika saya baca pesan itu, saya kembali bertanya, “Apakah saya benar – benar mencintai pekerjaan saya?”

Karena saya tak perlu bertanya apakah saya mencintai perusahaan tempat saya bekerja. Saya tahu pasti jawabannya : NO!

Kejenuhan yang menyergap sejak semester pertama dimulai membuat saya berpikir ulang sebetulnya apa yang saya sukai?

Enam tahun mengajar bahasa Indonesia membuat saya semakin jatuh hati pada bidang ini. Ilmu dan kemampuan menulis saya pun semakin bagus. Itu bisa dibuktikan dari tulisan -tulisan saya, baik fiksi maupun nonfiksi. Bukti teranyar di 2-3 bulan terakhir ini. Resensi buku anak saya dimuat di Kompas, cerita anak pertama saya mendapat pujian ‘perfekto’ dari mentor saya yang notabene penulis andal, serta komentar bagus dari dua penulis dewasa yang membaca cerpen dewasa saya.

So, saya mulai menyimpulkan kalau sekarang saya lebih tertarik pada dunia menulis bukan mengajar. Dalam tulisan, saya bisa berbagi masa lalu, rasa sakit, sedih, senang, dan bahagia tanpa orang tahu itu adalah kisah saya yang sebenarnya. Ketika tulisan saya dimuat di media, diterbitkan dalam buku, atau dikomentari mereka yang andal di bidang ini, saya merasa menjadi manusia yang berarti, yang diakui.

Sayangnya saya belum bisa menulis dengan disiplin penuh. Ketika saya memaksa menulis, pikiran saya kosong. Ketika pikiran saya fokus pada tulisan, hasilnya bagus dan layak dikirim ke media. Nah…secara implisit saya sudah tahu apa yang saya inginkan sebenarnya.

Mungkin merintisnya dengan tertib selama sepuluh tahun dulu kemudian saya pergi dari tempat ini. Semoga . . .

 

 

live to write