Kisah Faksi Pertama

Standar

Akhirnya setelah galau tiga minggu ini, tulisan untuk kelas online gratis yang saya ikuti selesai sudah. Awalnya, bingung banget mau menulis apa, gimana alurnya, dan gimana endingnya. Mulanya saya mau nulis untuk Gado -Gado aja. Sudah ada ide yang kugadang-gadang sejak lama.

Di H – 8 Lebaran, saya paksa menulis; menuangkan ide – ide, terutama alur penulisan. Wih, memang nih, nulis ga bisa disambi-sambi. Ga bisa disambi buka facebook, baca berita, apalagi chat dengan teman-teman di whatsapp.

Setelah berjam – jam mengurut kening dan mengetik apa saja yang terpikirkan yang berhubungan dengan tema, akhirnya beberapa menit sebelum pukul 16:00 WIB, tulisan saya selesai. Alhamdulillah.Legaa..bisa ngumpulin sebelum Lebaran, bisa mengalahkan diri sendiri, dan bisa mengalahkan ketidakpercayaan diri. Eh, itu sama aja ya dengan mengalahkan diri sendiri.hehehe..

Sebenernya sih saya masih bingung tulisan itu pesan moralnya apa. Saya hanya ingin menceritakan koper-koper ingatan yang masih saya bawa – bawa hingga hari ini. Dalam mimpi pun, si koper 1 masih sering muncul. Ia kadang membaca pertanda atau sekadar menyapa. Entah apa maksudnya. Yang pasti terbangun dari mimpi yang isinya si koper 1 membuat hari saya mendung dan pikiran saya kacau.

Ini pertama kalinya saya menulis tentang koper-koper ingatan itu. Dulu, bertahun-tahun sebelumnya, saya masih bisa bercerita detail tentang apa yang pernah saya alami. Sekarang, saya tak bisa lagi. Hm..rasanya saya agak lupa. Apakah ini pertanda bagus? Tapi jika itu positif, mengapa saya masih sangat marah kalau ingatan – ingatan masa lalu itu mampir? Tidak seluruhnya muncul, tapi saya pasti marah.

Kemarahan itu harus dilepaskan, tapi tidak diledakkan. Saya masih terus belajar mengenali dan memahami kondisi ini. Titik terang sudah tampak, tinggal saya yang harus mau legowo memaafkan lalu memaklumi.

Saya tahu ini bukan hal sederhana atau sesimple yang dibayangkan orang yang belum mengalaminya. Praktik takpernah seindah teori, tapi agar benar, ia harus belajar dari teori. Di sinilah saya. Di tahun keempat ini, saya terus berkontemplasi; jujur pada diri sendiri. Semoga jalan semakin terang dan memaafkan bukan khayalan.

Salam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s