Guru pun Harus Punya Nilai Jual

Standar
Guru pun Harus Punya Nilai Jual

Hasil angket sudah keluar. Performaku menurun semester 2 ini. Meskipun masih di grade A untuk level SMA, tapi rincian nilainya menurun ketimbang tahun lalu. Sementara di level SMP, gradeku turun jadi B. Hm..seingatku banyak yang kasih nilai 4 dan 3 sih, tapi kayaknya ada juga yang kasih nilai 2. Agak sedih sih. Walaupun –katanya- grade ga berpengaruh pada gaji, tetap saja ini berhubungan dengan prestise dan eksistensi sebagai pengajar.

Yah, meskipun selama ini gradeku A di level SMA dan SMP, toh hasil angket itu tidak berpengaruh apa pun pada pekerjaanku.Semuanya sama saja. Jadwal tetap menumpuk karena aku tumpuan di unit. Ada teman pengajar bahasa Indonesia lain, tapi kesediaan mengajarnya kurang dan ia cenderung keberatan jika harus mengajar SMA. Pun dengan penugasa dari kantor pusat, tak ada yang istimewa. Semua sama saja.Mau grade A atau B. Jadi, kadangkala kupikir ini tak ada gunanya. Hanya angket dan hanya sebagian orang yang memetik hasil dari gradenya. Selebihnya ya biasa saja dengan pekerjaan itu-itu saja. Toh orang-orang itu saja yang diperhatikan pusat.

Kusimpulkan demikian, berangkat dari pengalaman lima tahun lebih bekerja di tempat ini. Tak ada standardisasi atau konsistensi menetapkan aturan main. Semua seperti karet. Ada hal menarik sekaligus menyenangkan hati.bertahun-tahun sebelumnya, aku tak pernah diundang ikut pembahasan, tahun ini undangan itu datang. Dalam hati excited sih, tapi supaya tak mencetuskan berbagai komnetar di kanan-kiri, aku berlagak biasa aja. Pengalaman baru dan ilmu baru yang -ehm- rasanya agak menguap nih.ups!

Penilaian angket semester dua ini terdiri atas penguasaan materi, skill mengajar, aplikasi revolusi mengajar, keakraban dengan siswa, dan opini siswa terhadap pengajar.
Lima point itu ada pada angket yang harus diisi siswa level SMP dan SMA. Di level SMA, nilai A-ku ada pada penguasaan materi, keakraban dengan siswa, dan opini siswa terhadapku. Untuk point lain, aku mendapat B. Sementara di level SMP, aku dapat B di semua poin. Ini penurunan hihihi..

Sadar sih, aku mengalami penurunan semangat mengajar semester ini. Entah terpengaruh teman, entah kehilangan asa, atau apa. Bisa juga karena jenuh. bisa juga jenuh ada di zona nyaman. Bisa juga ingin cari tempat lain. bisa banyak hal. Bisa juga karena tak ada hal menarik di tempat ini yang membuatku bersemangat. Anak-anak yang begitu-begitu saja. Kekritisan mereka yang minimalis, ketertarikan mereka pada bahasa Indonesia yang rendah, ide-ideku yang menguap, dan hal-hal baru yang bisa kusampaikan di kelas yang tak lagi kupunya.

Kondisi ini amat berbeda dengan kondisi di SUkabumi atau Majalengka. Ada semangat meski konflik dengan bos tumbuh subur. Di sini, biasa saja. Orang-orang yang nyaman dengan status quo mereka dan suka menyindir kalau ada teman yang bersemangat. Aku harus memompa semangatku lagi, mencari tambahan referensi tentang skill mengajar ((baca :public speaking for teacher). termasuk games pembuka agar siswa semangat belajar. Ini pekerjaan rumah yang terbengkalai padahal aku sudah tahu sejak lama.

Kembali berbenah agar aku punya nilai jual lebih. Duluu, nilai jualku adalah kokologi dan kemampuanku menerjemahkan makna permainan itu di kelas. Sekarang, setelah kokologi semakin populer, anak-anak mulai jenuh dengan itu. Anak-anak sekarang berbeda dengan anak-anak lima tahun silam. Anak-anak tahun 2014 ini taksuka dinasihati, mereka lebih suka didengarkan;dimaklumi seluas-luasnya. Bagaimana masuk ke dalamnya agar mereka mau duduk manis atau minimal pay attention saat kami belajar di kelas? Hmm..mungkin lewat games..

Guru pun harus punya nilai jual agar anak didik takbosan belajar dengannya. Bukan hanya penguasaan ilmu, melainkan juga kemampuannya menarik perhatian anak didik saat belajar di kelas. Jika mereka ikhlas memperhatikan, ilmu akanmudah tersampaikan lalu terserap di pikiran dan hati mereka. Harapan yang sama setelahnya : ilmu itu menjadi bekal mereka melangkah dan berkarya di masyarakat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s