Kebangkitan

Standar

Alhamdulillah setelah resensiku dimuat di Kompas Anak edisi 22 Juni 2014 lalu, hari ini ada kabar gembira lagi. Tulisanku lulus seleksi Grand Kuis III Lomba I Paberland 2014. Hadiahnya ga wah banget sih. Hadiahnya dapat bimbingan kelas online dari Mbak Dian Kristiani. Bagiku yang sudah sangat lama mandeg menulis, dibimbing menulis lagi itu rasanya excited banget.

Kusebut dua peristiwa itu sebagai kebangkitan. Kebangkitan Sugi, halah hehehe…Bangkit setelah dua tahun tergeletak malas-malasan. Eh, atau tergeletak tak berdaya? Yang pasti, aku harus merapikan waktu dan menyusun agenda menulis kembali. Kesempatan kali ini ga boleh disia-siakan. Sebelumnya, banyak banget kesempatan yang kubiarkan lewat begitu saja karena dikuasai rasa malas. Bener kata orang bijak, “musuh kita adalah diri kita sendiri.” Yup, musuhku adalah kemalasanku. Ini luar biasa sulit melawannya.

Sekalipun hanya resensi yang ditulis maksimal 300 kata, keberhasilannya dimuat di Kompas Anak menjadi kebanggaan tersendiri buatku. Kompas merupakan koran favoritku. Sejak SMA, aku membacanya. Secara tidak langsung ia ‘meracuni’ pola berpikirku. Caraku memahami masalah, wawasan yang kupunya, dan sebagainya. Hal itu membentukku hingga saat ini. Media yang selalu kubaca pertama kali jika ada banyak media cetak di dekatku.

Teringat Cipto. Teman kost yang sangat gigih berjuang agar tulisannya dimuat di Kompas. Bertahun-tahun silam, entah sudah berapa banyak tulisan yang dikirimkannya ke redaksi Kompas yang dibalas dengan surat penolakan. Demi impiannya, ia rela berhari-hari tinggal di perpustakaan universitas. ia membaca banyak buku hingga tertidur. Bertahun-tahun kemudian, kubaca cerpennya dimuat di Kompas. Perjuangan yang luar biasa. Tahun lalu kubaca lagi namannya masuk dalam kumpulan cerpen terbaik Kompas 2013. Congrats,Cip. Tak ada yang sia-sia dengan kerja keras!

Nah, jauh dalam hati, aku punya impian yang sama. Sayangnya, aku tak segigih Cipto. Aku secukupnya saja. Ala kadarnya. Seumur hidup, kerja keras yang kulakukan hanya saat persiapan ujian masuk perguruan tinggi negeri. Kerja keras yang membuat ibu khawatir kalau aku gagal. Alhamdulillah, kerja keras itu berbuah manis. Aku lulus. Setelah itu, tak ada lagi usaha gigih tanpa henti yang kulakukan. Semuanya biasa saja hingga hari ini.

Tahun ini, aku ingin bangkit kembali. Berkarya seperti tahun 2010 silam. Lima jejak itu harus dilanjutkan. Tahun ini, tidak lagi buku antologi, tetapi menulis di media. Dalam pengamatanku, tingkat keterbacaan media cetak atau media online lebih tinggi ketimbang buku. Ini anak tangga yang sedang kutiti. Setelah buku-buku antologi, aku melangkah ke media cetak. Belajar menulis fokus, belajar mengatur alur, dan satu lagi : belajar menulis cerpen dan dongeng.

Nah, bimbingan menulis online dengan Mbak Dian Kristiani kuharap sebagai jalan setapak menuju ke sana. Setapak? karena ini masih jalan kecil tersembunyi yang harus kulalui hati-hati. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Di mana ada usaha, di situ ada keberhasilan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s