Monthly Archives: Juli 2014

Kisah Faksi Pertama

Standar

Akhirnya setelah galau tiga minggu ini, tulisan untuk kelas online gratis yang saya ikuti selesai sudah. Awalnya, bingung banget mau menulis apa, gimana alurnya, dan gimana endingnya. Mulanya saya mau nulis untuk Gado -Gado aja. Sudah ada ide yang kugadang-gadang sejak lama.

Di H – 8 Lebaran, saya paksa menulis; menuangkan ide – ide, terutama alur penulisan. Wih, memang nih, nulis ga bisa disambi-sambi. Ga bisa disambi buka facebook, baca berita, apalagi chat dengan teman-teman di whatsapp.

Setelah berjam – jam mengurut kening dan mengetik apa saja yang terpikirkan yang berhubungan dengan tema, akhirnya beberapa menit sebelum pukul 16:00 WIB, tulisan saya selesai. Alhamdulillah.Legaa..bisa ngumpulin sebelum Lebaran, bisa mengalahkan diri sendiri, dan bisa mengalahkan ketidakpercayaan diri. Eh, itu sama aja ya dengan mengalahkan diri sendiri.hehehe..

Sebenernya sih saya masih bingung tulisan itu pesan moralnya apa. Saya hanya ingin menceritakan koper-koper ingatan yang masih saya bawa – bawa hingga hari ini. Dalam mimpi pun, si koper 1 masih sering muncul. Ia kadang membaca pertanda atau sekadar menyapa. Entah apa maksudnya. Yang pasti terbangun dari mimpi yang isinya si koper 1 membuat hari saya mendung dan pikiran saya kacau.

Ini pertama kalinya saya menulis tentang koper-koper ingatan itu. Dulu, bertahun-tahun sebelumnya, saya masih bisa bercerita detail tentang apa yang pernah saya alami. Sekarang, saya tak bisa lagi. Hm..rasanya saya agak lupa. Apakah ini pertanda bagus? Tapi jika itu positif, mengapa saya masih sangat marah kalau ingatan – ingatan masa lalu itu mampir? Tidak seluruhnya muncul, tapi saya pasti marah.

Kemarahan itu harus dilepaskan, tapi tidak diledakkan. Saya masih terus belajar mengenali dan memahami kondisi ini. Titik terang sudah tampak, tinggal saya yang harus mau legowo memaafkan lalu memaklumi.

Saya tahu ini bukan hal sederhana atau sesimple yang dibayangkan orang yang belum mengalaminya. Praktik takpernah seindah teori, tapi agar benar, ia harus belajar dari teori. Di sinilah saya. Di tahun keempat ini, saya terus berkontemplasi; jujur pada diri sendiri. Semoga jalan semakin terang dan memaafkan bukan khayalan.

Salam

Iklan

Guru pun Harus Punya Nilai Jual

Standar
Guru pun Harus Punya Nilai Jual

Hasil angket sudah keluar. Performaku menurun semester 2 ini. Meskipun masih di grade A untuk level SMA, tapi rincian nilainya menurun ketimbang tahun lalu. Sementara di level SMP, gradeku turun jadi B. Hm..seingatku banyak yang kasih nilai 4 dan 3 sih, tapi kayaknya ada juga yang kasih nilai 2. Agak sedih sih. Walaupun –katanya- grade ga berpengaruh pada gaji, tetap saja ini berhubungan dengan prestise dan eksistensi sebagai pengajar.

Yah, meskipun selama ini gradeku A di level SMA dan SMP, toh hasil angket itu tidak berpengaruh apa pun pada pekerjaanku.Semuanya sama saja. Jadwal tetap menumpuk karena aku tumpuan di unit. Ada teman pengajar bahasa Indonesia lain, tapi kesediaan mengajarnya kurang dan ia cenderung keberatan jika harus mengajar SMA. Pun dengan penugasa dari kantor pusat, tak ada yang istimewa. Semua sama saja.Mau grade A atau B. Jadi, kadangkala kupikir ini tak ada gunanya. Hanya angket dan hanya sebagian orang yang memetik hasil dari gradenya. Selebihnya ya biasa saja dengan pekerjaan itu-itu saja. Toh orang-orang itu saja yang diperhatikan pusat.

Kusimpulkan demikian, berangkat dari pengalaman lima tahun lebih bekerja di tempat ini. Tak ada standardisasi atau konsistensi menetapkan aturan main. Semua seperti karet. Ada hal menarik sekaligus menyenangkan hati.bertahun-tahun sebelumnya, aku tak pernah diundang ikut pembahasan, tahun ini undangan itu datang. Dalam hati excited sih, tapi supaya tak mencetuskan berbagai komnetar di kanan-kiri, aku berlagak biasa aja. Pengalaman baru dan ilmu baru yang -ehm- rasanya agak menguap nih.ups!

Penilaian angket semester dua ini terdiri atas penguasaan materi, skill mengajar, aplikasi revolusi mengajar, keakraban dengan siswa, dan opini siswa terhadap pengajar.
Lima point itu ada pada angket yang harus diisi siswa level SMP dan SMA. Di level SMA, nilai A-ku ada pada penguasaan materi, keakraban dengan siswa, dan opini siswa terhadapku. Untuk point lain, aku mendapat B. Sementara di level SMP, aku dapat B di semua poin. Ini penurunan hihihi..

Sadar sih, aku mengalami penurunan semangat mengajar semester ini. Entah terpengaruh teman, entah kehilangan asa, atau apa. Bisa juga karena jenuh. bisa juga jenuh ada di zona nyaman. Bisa juga ingin cari tempat lain. bisa banyak hal. Bisa juga karena tak ada hal menarik di tempat ini yang membuatku bersemangat. Anak-anak yang begitu-begitu saja. Kekritisan mereka yang minimalis, ketertarikan mereka pada bahasa Indonesia yang rendah, ide-ideku yang menguap, dan hal-hal baru yang bisa kusampaikan di kelas yang tak lagi kupunya.

Kondisi ini amat berbeda dengan kondisi di SUkabumi atau Majalengka. Ada semangat meski konflik dengan bos tumbuh subur. Di sini, biasa saja. Orang-orang yang nyaman dengan status quo mereka dan suka menyindir kalau ada teman yang bersemangat. Aku harus memompa semangatku lagi, mencari tambahan referensi tentang skill mengajar ((baca :public speaking for teacher). termasuk games pembuka agar siswa semangat belajar. Ini pekerjaan rumah yang terbengkalai padahal aku sudah tahu sejak lama.

Kembali berbenah agar aku punya nilai jual lebih. Duluu, nilai jualku adalah kokologi dan kemampuanku menerjemahkan makna permainan itu di kelas. Sekarang, setelah kokologi semakin populer, anak-anak mulai jenuh dengan itu. Anak-anak sekarang berbeda dengan anak-anak lima tahun silam. Anak-anak tahun 2014 ini taksuka dinasihati, mereka lebih suka didengarkan;dimaklumi seluas-luasnya. Bagaimana masuk ke dalamnya agar mereka mau duduk manis atau minimal pay attention saat kami belajar di kelas? Hmm..mungkin lewat games..

Guru pun harus punya nilai jual agar anak didik takbosan belajar dengannya. Bukan hanya penguasaan ilmu, melainkan juga kemampuannya menarik perhatian anak didik saat belajar di kelas. Jika mereka ikhlas memperhatikan, ilmu akanmudah tersampaikan lalu terserap di pikiran dan hati mereka. Harapan yang sama setelahnya : ilmu itu menjadi bekal mereka melangkah dan berkarya di masyarakat.

Kebangkitan

Standar

Alhamdulillah setelah resensiku dimuat di Kompas Anak edisi 22 Juni 2014 lalu, hari ini ada kabar gembira lagi. Tulisanku lulus seleksi Grand Kuis III Lomba I Paberland 2014. Hadiahnya ga wah banget sih. Hadiahnya dapat bimbingan kelas online dari Mbak Dian Kristiani. Bagiku yang sudah sangat lama mandeg menulis, dibimbing menulis lagi itu rasanya excited banget.

Kusebut dua peristiwa itu sebagai kebangkitan. Kebangkitan Sugi, halah hehehe…Bangkit setelah dua tahun tergeletak malas-malasan. Eh, atau tergeletak tak berdaya? Yang pasti, aku harus merapikan waktu dan menyusun agenda menulis kembali. Kesempatan kali ini ga boleh disia-siakan. Sebelumnya, banyak banget kesempatan yang kubiarkan lewat begitu saja karena dikuasai rasa malas. Bener kata orang bijak, “musuh kita adalah diri kita sendiri.” Yup, musuhku adalah kemalasanku. Ini luar biasa sulit melawannya.

Sekalipun hanya resensi yang ditulis maksimal 300 kata, keberhasilannya dimuat di Kompas Anak menjadi kebanggaan tersendiri buatku. Kompas merupakan koran favoritku. Sejak SMA, aku membacanya. Secara tidak langsung ia ‘meracuni’ pola berpikirku. Caraku memahami masalah, wawasan yang kupunya, dan sebagainya. Hal itu membentukku hingga saat ini. Media yang selalu kubaca pertama kali jika ada banyak media cetak di dekatku.

Teringat Cipto. Teman kost yang sangat gigih berjuang agar tulisannya dimuat di Kompas. Bertahun-tahun silam, entah sudah berapa banyak tulisan yang dikirimkannya ke redaksi Kompas yang dibalas dengan surat penolakan. Demi impiannya, ia rela berhari-hari tinggal di perpustakaan universitas. ia membaca banyak buku hingga tertidur. Bertahun-tahun kemudian, kubaca cerpennya dimuat di Kompas. Perjuangan yang luar biasa. Tahun lalu kubaca lagi namannya masuk dalam kumpulan cerpen terbaik Kompas 2013. Congrats,Cip. Tak ada yang sia-sia dengan kerja keras!

Nah, jauh dalam hati, aku punya impian yang sama. Sayangnya, aku tak segigih Cipto. Aku secukupnya saja. Ala kadarnya. Seumur hidup, kerja keras yang kulakukan hanya saat persiapan ujian masuk perguruan tinggi negeri. Kerja keras yang membuat ibu khawatir kalau aku gagal. Alhamdulillah, kerja keras itu berbuah manis. Aku lulus. Setelah itu, tak ada lagi usaha gigih tanpa henti yang kulakukan. Semuanya biasa saja hingga hari ini.

Tahun ini, aku ingin bangkit kembali. Berkarya seperti tahun 2010 silam. Lima jejak itu harus dilanjutkan. Tahun ini, tidak lagi buku antologi, tetapi menulis di media. Dalam pengamatanku, tingkat keterbacaan media cetak atau media online lebih tinggi ketimbang buku. Ini anak tangga yang sedang kutiti. Setelah buku-buku antologi, aku melangkah ke media cetak. Belajar menulis fokus, belajar mengatur alur, dan satu lagi : belajar menulis cerpen dan dongeng.

Nah, bimbingan menulis online dengan Mbak Dian Kristiani kuharap sebagai jalan setapak menuju ke sana. Setapak? karena ini masih jalan kecil tersembunyi yang harus kulalui hati-hati. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Di mana ada usaha, di situ ada keberhasilan.