Monthly Archives: Juni 2014

Kuncine Mung Siji : Tertib

Standar

Ternyata ada agenda cari buku-buku menulis. Aku sudah punya semua buku menulis itu, tapi cuma teronggok begitu saja tanpa pernah kubaca hingga benar-benar selesai. Ini payaah dan selalu payah. Sayangnya, hanya berhenti pada keluhan tanpa ada perubahan.

Minggu lalu, akhirnya satu resensi buku anak berhasil kukirim. Seharusnya setelah satu resensi selesai, aku bergerak lagi; membaca lagi hingga ada resensi kedua, resensi ketiga, dan seterusnya. Belum lagi kompetisi membaca yang kuikuti. Heey! Aku menjanjikan membaca 150 buku dalam setahun ini!! Gokil ni. Kalau ga direalisasikan ya bakal tersingkir. Tiga tahun kontraproduktif. Tak ada karya yang eksis. Bukankah aku sendiri yang sering bikin self reminder untuk tidak menjadi orang kebanyakan?

Aku sadar tak bisa berharap pada tahapan karier di kantor. Bukan untuk jabatan, aku tak mau menjadi pejabat di tempat ini. Aku ingin menikmati hidup; ingin menikmati hari-hariku dengan waktu luang yang terbatas itu. Karier yang kumaksud adalah koordinator buku atau pun outsourcing menyusun buku koding atau bisa juga hanya diundang dalam pembahasan SBMPTN. Lima tahun di tempat ini, baru sekali aku merasa diakui ada, yaitu saat diminta membuat soal – soal TO kerja sama SMP Salatiga. Itu membanggakan. Sayangnya, ah lagi-lagi sayangnya, aku tidak tertib mengumpulkan soal sehingga tidak dipercaya lagi.

Kadang sebel sih, kenapa yang diundang datang ke pembahasan SBMPTN orang itu-itu saja. Mengapa mereka saja yang dipercaya? Mengapa tak ada sistem rolling untuk itu? Kalau koordinator dan QC oke lah, tapi seharusnya untuk pengajar di tiap unit atau di tiap cabang diundang bergantian. Bukankah tanggung jawab menyampaikan materi dan membuat siswa mengerti terhadap materi yang disampaikan ada di pundak para pengajar? Dengan dirollingnya pengajar ke acara pembahasan itu, bisa memberi kesempatan pengajar untuk semakin mengasah ilmunya selain Uji Kompetensi Materi Pengajar (UKMP) dan diklat sebelum turun ke lapangan.

Lama-lama aku gerah juga dengan ini. Kalau mau diukur, setiap pengajar di seluruh unit/cabang pasti sudah menyelesaikan berbagai jenis soal dan tugas yang dibawa siswa saat TST. Tidak hanya membimbing mereka menyelesaikan soal-soal latihan, tetapi juga membimbing mereka saat ada tugas yang lebih rumit, seperti menyusun karya ilmiah, menulis esai untuk lomba atau mengajukan beasiswa. Bukankah itu juga perlu skill lebih dari sekadar paham linguistik belaka?

Selama ini aku hanya diam. Tak banyak komentar bahkan ingin tahu siapa sih yang tahun ini kebagian tugas menjadi koordinator buku atau berkesempatan menjadi tim pembahas SBMPTN atau SIMAK UI atau UM UGM. Karena aku tahu, mereka lagi,mereka lagi. Beberapa dari mereka, sejauh yang kutahu dari interaksi kami beberapa waktu lalu kemampuannya pun sama denganku. Ini menggusarkan kalau ditelaah lebih dalam. Namun, buat apa? Toh ikut atau tidak ikut, sama saja. Tugas mengajar tetap banyak, nominal kenaikan gaji pun relatif sama, dan apresiasi atas hasil kerja pun tidak sepadan.

Karena itulah, aku harus berkarya di luar. Melakukan hal yang kubisa, yang kusuka, dan aku tahu apresiasinya jauh lebih sepadan ketimbang melulu membatin mengapa aku tak dilibatkan dalam tim pembahas soal SBMPTN? Sebenarnya kalau mau ditelusuri lagi, ada juga tugas penting yang didelegasikan kepadaku. Beberapa kali menjadi pemateri CRM (Customer Relationship Management) bukan tugas sepele. Pemahaman terhadap produk perusahaan, kemampuan menyampaikan materi, dan kemampuan menguasai forum menjadi tolok ukur. Jadi ingat, saat itu rekan kerjaku komentar,”Emang ngga ada orang lain, kok ibu yang disuruh ngasih CRM?”

Pengin deh jawab, “Helloo…pemberi tugas pasti sudah mempertimbangkan siapa saja yang bisa menjadi pemateri CRM. Sekalipun itu pertanyaan meremehkan kalau diseriusi, kuanggap angin lalu saja supaya hati lebih ringan. It works! Hanya sedikit tak nyaman, tapi cepat hilang. Meski aku masih belum lupa, itu kujadikan tambahan tanda tak aman curhat tentang ketidakadilan posisi di kantor. Banyak tanda yang sudah kukumpulkan dan kujadikan alarm pengingat agar berhati-hati berbagi rasa di lingkungan kantor. Kita takpernah tahu siapa teman yang benar-benar teman dan siapa yang hanya manis di depan. Peristiwa tahun lalu waktu aku dipanggil kanit karena jam kerjaku tidak disiplin membuatku sangat terluka. Aku yakin pasti ada yang laporan. Awalnya kecurigaanku pada seorang customer sevice, pelan-pelan petunjuk lain muncul, dan tersangka pun berpindah ke staf lain. Seiring perjalanan waktu, kusimpulkan tersangka kedua inilah yang melaporkan. Karena itu, aku semakin berhati-hati.

Berbagai ketidakasyikan itu kadangkala menggelitikku untuk resign. Tahun lalu, aku sempat lamar kerja di tempat lain, sebuah sekolah elite, dan sudah tes micro teaching. Mungkin karena bukan rezekiku, aku tetap di kantor ini. Masih di awal tahun, kucoba peruntunganku mengajukan proposal S-2. Sayaaang – lagi – tidak lulus karena skor TOEFL-ku hanya 470. Kurang 30 lagi menuju 500. Seandainya aku belajar tekun, pasti hasilnya bisa 500. Aku hanya belajar semalam sebelum tes. Huhuhu…

Sebenarnya rentetan kegagalan itu disebabkan ketidakdisiplinanku; ketidaksungguhanku menjalani proses. Kalau soal lamaran mengajar di sekolah elite itu memang aku tidak sesuai dengan kualifikasi mereka. Mm..apa mungkin karena aku komentar soal musala?atau jauh di dalam hati, aku tak sreg dengan jam masuk pukul 07.00 lewat jalur supermacet yang membuat waktuku di jalan akan jauuh lebih tersita ketimbang di kantorku sekarang. Yah…apa pun bisa jadi penyebab. Wallahualam..
Di pertengahan tahun, kucoba ikut CPNS. Setelah sembilan tahun tidak pernah ikut ajang semacam ini. Kuusahakan sekuat tenaga memenuhi persyaratan administrasinya sampai aku sempatkan ke Yogyakarta meski hanya sehari semalam. Sayangnya aku tak sungguh-sungguh belajar saat ujian TKD. Jadilah nilaiku tidak memenuhi syarat. Yo wis…kembali ke rutinitas semula hingga hari ini.

Enam bulan sudah berjalan di 2014, tak ada hal baru yang kulakukan. Ini bahkan berkurang. Aku taklagi disibukkan dengan barang-barang jualan. Getting worst, I think. Padahal banyak yang bisa dilakukan. Salah satunya yang sudah dalam pengerjaan, pesanan naskah CPNS dari sebuah penerbit. DL 1 Juli. Masih 19 hari lagi. Masih bisa dan banyak waktu selama aku tertib sesuai jadwal penulisan yang kususun.

Masih ada waktu pula untuk menyelingi pesanan naskah itu dengan ikut beberapa lomba menulis. Ups! Baru inget ada seleksi untuk ikut Writing Clinic di sebuah majalah wanita. Lewat aja deh. Ga sempet nulis cerpen dalam waktu singkat. Aku belum pernah nulis cerpen dengan  serius soale. Kalau nulisnya sambil lalu Ga ok deh hasilnya.

Inilah kegiatan yang kumaksud. Menulis menghiburku atas ketidaknyamanan yang kurasakan dalam sistem di kantor. Menulis membuatku merasa berharga. Menulis membuatku eksis. Menulis pun bisa lebih menginspirasi siapa pun yang membaca. Pembaca yang kukenal atau tidak. Yang pasti, menulis lebih independen dan lebih fair tampaknya. Bukan nama itu-itu saja yang muncul, nama baru bisa bermunculan setiap hari selama karyanya bagus dan..ehm..punya nilai jual. Pragmatis? memang. Namun, pragmatis yang ini kukira bisa kuikuti alurnya asal banyak baca dan belajar. Bismillah..kuncine mung siji : TERTIB!!

Iklan