Monthly Archives: Juni 2013

Buset, Disorientasi di Dunia Maya

Standar

Paling ngga asyik kalo sinyal lagi oke, paket internet masih komplit, tapi ngga tau mau ngapain pas internetan. Biasanya ada artikel-artikel menarik untuk dibaca, ada agenda-agenda yang harus saya selesaikan di dunia maya. Sayangnya, hari ini tidak ada yang teringat hingga pertanyaan, “Mau ngapain ya?” bolak-balik melintas di benak saya.

Ternyata perlu waktu lebih dari sejam untuk memanaskan otak dan mengikat ide. Saya baru bisa menulis dan tahu apa yang harus dilakukan setelah dua jam luntang-lantung ngga jelas di facebook, kompas.com, dan toko buku online. Ah, betapa mahalnya ide dan semangat. 

 

 

Intensif yang Sudah Selesai

Standar

Akhirnya, selesai sudah 1,5 bulan yang padat. Penuhnya jadwal dan konsultasi tanpa henti sehingga harus pulang malam setiap hari. Ada lega terasa karena bisa pulang sore, tapi sedih juga sih karena hari-hari ke depan akan agak membosankan.

Sekalipun banyak jadwal konsultasi sehingga aku tak sempat istirahat dan makan berlama-lama, aku menikmatinya. Berdiskusi dengan siswa, menjawab dan menjelaskan berbagai soal seputar sintaksis dan wacana sangat menggairahkan. Ilmuku bertambah, wawasan siswa-siswaku pun bertambah. Benar kata orang bijak, takkan habis ilmu kita dibagi, yang ada malah terus bertambah.

Mulai hari Senin, aku akan menjumpai kursi-kursi ruang diskusi yang kosong atau sepi dari anak-anak yang belajar. Ruang-ruang kelas apalagi. Kursi-kursi sunyi tak berpenghuni. Tak ada lagi kesibukan mengajar, bel yang berbunyi nyaring, dan hiruk pikuk siswa bercanda atau bertanya. Hm..ini siklus biasa sebenarnya.

Lalu apa yang membuatku merasa kehilangan? Rasanya aku kehilangan beberapa siswa yang sudah dekat di hati. Hanya beberapa,tapi lekat terasa. Siswa-siswa alumni yang tekun belajar, yang keras berusaha karena mereka sudah paham sakitnya gagal. Aku akan rindu Shella dan kegigihannya, rindu Adit yang pendiam dan tekun, rindu Arum yang impulsif, tapi cerdas, dan rindu Reki yang santun dan wajahnya mirip Ayah Lintang.

Rindu mengajar di kelas mereka yang serius, tapi menyenangkan. Senin, Selasa, Rabu, dan seterusnya takkan kujumpai lagi mereka yang duduk manis di ruang diskusi dengan serakan kertas dan buku di meja. Hmm..selalu ada yang bermukim di hati setiap tahun ajaran selesai . Mereka akan diganti oleh siswa-siswa baru di tahun ajaran depan. Polah tingkah berbeda, karakter berbeda, dan sayang yang berbeda pad mereka.

Indahnya menjadi guru, indahnya menjadi sahabat anak-anak ini. Semoga mereka tak melupakanku, semoga kelak kami bisa kembali bertemu dalam kondisi yang lebih baik. Terakhir, semoga kalian lulus SBMPTN. Aamiin..