Disadarkan Kritik

Standar

Menerima kritik ternyata tidak semudah saat kita meminta dikritik. Baru saja saya meminta teman dekat saya mengkritisi tulisan terbaru saya di buku antologi Menjadi Guru Inspiratif yang baru terbit Desember 2012 lalu.  Komentarnya seperti biasa to the point dan “tas..tas..tas..” Ini bukan tas dalam pengertian benda tempat menyimpan sesuatu, melainkan sebutan saya pada setiap komentarnya yang sangat khas Jawa Timur; apa adanya tanpa tedeng aling-aling. Bagi saya yang besar di Kota Bandung dengan segala kehalusannya, kebiasaan komentar to the point itu seringkali mengagetkan dan ehm..menyebalkan.

Namun, memang begitulah seharusnya kritik disampaikan. Terlebih pada orang terdekat karena kritik itu diharapkan dapat menjadi motivator demi kondisi yang lebih baik di masa depan. So far, saya merasa tulisan saya sudah bagus tinggal dipoles dengan rajin menulis. Teman-teman penulis, beberapa pernah menjadi editor saya, menilai gaya menulis saya sudah bagus. Tak hanya cara penyampaian ide,tetapi juga pemahaman tentang EYD. Kalau pemahaman EYD sih wajar, saya kan guru Bahasa Indonesia. 🙂

Tulisan yang dikritisi itu tulisan lama sebetulnya. Saya menulisnya di tahun 2011 silam. Bayangpun! dua tahun lalu dan baru saya terima bukti terbitnya pertengahan Januari. Ugh!

Dia, teman dekat saya ini, mengatakan tulisan saya terlalu vulgar. “Tak ada gaya untuk memperindah atau menutupi fakta,” katanya. Tebersit perasaan malu karena saya yang sudah agak berbangga hati ini ternyata masih banyak kekurangan. Terlebih setahun kemarin tidak menulis dengan intens dan tidak banyak membaca maka sepertinya agak kacau balau tulisan saya.

Saya pun tidak lagi rajin mengikuti lomba-lomba menulis karena ketidakdisiplinan pengelolaan waktu. Dulu, saya selalu bisa menyempatkan diri menulis setelah salat subuh. Sekarang? subuh pun sering bablas..MasyaAllah..

Sebenarnya kesibukan mengajar di bimbel tidak banyak menyita waktu. Persiapan mengajar pun tidak ribet. Kebetulan materi yang diberikan dari tahun ke tahun tidak berubah. Jadi, saya cukup mengulang membaca dan menyiapkan strategi pengajaran di kelas. Itu pun mengalir. Biasanya, saya agak kesulitan saat  memberikan materi di kelas pertama. Namun, di kelas-kelas selanjutnya dengan materi serupa, saya sudah bisa mengatur penyampaiannya dengan lebih sistematis. Intinya sih, saya perlu merumuskan penyampaian setiap materi dalam catatan agar bisa saya baca kembali saat akan menyampaikan materi tersebut di waktu yang berbeda.

Seharusnya kesibukan mengajar yang tak seberapa ini bisa membuat saya lebih produktif menulis. Mengingat minimnya produktivitas menulis saya, rasanya ada perih di hati. Terlebih setelah kritisi tambahan muncul. Teman saya yang lain bilang tulisan saya naif. Simpulannya tulisan ini naif dan tidak analogis. Bukankah tidak analogis = naif ? Ehm..itu sebenarnya gambaran karakter saya 🙂

Anyway, saya memang tak lagi ingin menargetkan berapa banyak saya menulis atau niat memaksa diri saya bangun di pagi buta agar bisa menulis. Minggu kemarin saya mengajak pikiran saya lebih tenang menjalani proses menulis saya. Lebih tepatnya santai sih karena setiap target yang saya tetapkan dan tak tercapai membuat saya stress dan disorientasi. Rasanya setiap saya gagal menyelesaikan tulisan atau gagal menepati jadwal bangun dini hari, saya merasa tertekan. Itu perasaan yang ga asyik banget!!

Sayangnya, sekalipun saya berjalan santai, tetap saja setiap membaca status teman-teman penulis yang berhasil menyelesaikan tulisan mereka lalu diterbitkan atau dimuat. Ufh..ada yang nyesek di sini. Ada lubang di hati. Lubang itu memaksa saya kembali bergegas menulis lagi, memaksa otak saya menemukan ide dan alur tulisan yang oke. Ah, bukankah saya terbiasa menulis dengan hati? Jika otak saya yang menulis, tulisannya akan garing; tak berenergi.

Inilah masalah yang menjadi bulan-bulanan dalam hidup saya selain kegagalan menabung setiap bulan. Astaghfirullah..Kebiasaan memaklumi kemalasan yang membuat saya sering disorientasi kala membaca keberhasilan teman-teman. Saya teringat bahwa visi saya sebenarnya bukan sebagai guru bimbel,melainkan sebagai penulis. Hidup terasa lebih hidup saat tulisan saya dibaca banyak orang dan menginspirasi mereka.

Menjadi guru bukan passion terbesar sekalipun ada kebahagiaan saat siswa-siswa terinspirasi dengan ilmu dan hikmah yang saya sampaikan di kelas.  Seiring perjalanan saya sebagai guru bimbel dan carut marut kondisi siswa di tempat baru ini, saya simpulkan mengajar adalah jalan membiayai hidup. Pada akhirnya, passion terbesar saya adalah menulis.

So, masihkah saya bermalas-malasan dan terlalu santai?? Ini pertanyaan retorik..Allah, paringi power..Bismillahirrahmaanirrahiim..

Iklan

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s