Melek Kesehatan

Standar

Senin biasanya selalu padat. Orang Sunda bilang “riweuh”. Namun, Seninku tidak seperti biasanya, lengang, tanpa jadwal.

Nggak bener-bener lengang sih, masih ada tugas telemarketing yang menunggu dikerjakan. Telemarketing artinya peneleponan. Nah, aku paling malas tugas ini. Membayangkannya saja sudah enggan. Tenang, masih ada waktu lima hari sebelum deadline. Kebiasaan lama yang sulit hilang.

Tumben banget jadwalku hari ini cuma ngajar sekali. Setelah itu menghitung waktu hingga pukul lima sore. Waktunya pulaaang..

Sisa waktu 6,5 jam seperti waktu kosong yang penginnya diisi dengan tidur siang.Halaah..emang bisa?Tadi sempet tidur-tiduran di musala,tapi ga enak lalu segera salat dan kembali ke ruang diskusi.. Ga enak secara moral dan selebihnya karena ga ada temen yang bisa diajak bandel.hehe

Beginilah kesibukan guru bimbel. Mengalir terus tanpa henti sekalipun anak-anak sudah usai ujian. Ups, ujian yang selesai kan baru ujan nasional. Masih ada seleksi masuk SNMPTN,ujian-ujian mandiri yang diselenggarakan PTN atau PTS untuk para lulusan SMA/SMK. Selain itu, anak-anak kelas tiga SMP pun masih punya program persiapan masuk SMA RSBI.

Oleh karena itu, penting bagi para pengajar menjaga staminanya. Suplemen adalah penolong kami selain makanan dan minuman sehat yang bergizi. Sayangnya, itu tinggal kesadaran tak berdaya. Praktiknya, kebanyakan dari kami sering lalai mengonsumsi vitamin. Alasannya karena lupa atau harganya mahal.

Padahal kalau dihitung,harga vitamin yang 30-50rb itu jauh lebih murah dibandingkan biaya ke dokter dan badan yang ga enak diajak ngapa-ngapain. Jadi,melek kesehatan itu penting. Itu berlaku untuk semua stakeholders. Baik pengajar,karyawan,manajer,maupun direksi.

Manifestasi kesadaran kesehatan tiap stakeholder berbeda. Bagi pengajar dan karyawan, ia harus bisa membagi waktunya antara bekerja, dirinya sendiri,dan keluarga.

Nah, manajer dan direksi memegang peranan penting dalam menentukan kebijakan tentang perlindungan kesehatan dan keselamat karyawan dan pengajar.

Sejauh ini, bimbel tempatku mengajar belum mempunyai kebijakan yang mengatur perlindungan kesehatan dan keselamatan pekerjanya,

Direksi dan manajer masih berprinsip,”Your health is your bussiness.” Owh…dengan kata lain, kami harus cerdas menyisihkan gaji untuk membayar premi asuransi dan menyediakan suplemen agar sehat dan segar senantiasa.

Iklan

3 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s