Kali Ini tentang Organisasi

Standar

Ide ini sudah sering muncul sejak tahun pertama saya bergabung dengan bimbel ini. Beberapa kali saya mengomunikasikannya dengan beberapa rekan kerja yang punya kegelisahan sama. Sayangnya, tak pernah bisa mengeksekusinya. Jadilah selama tiga tahun terakhir ide itu meringkuk di dunia ide saya.

Bagaimana pun, harus diakui sulit menemukan kawan sepaham yang bisa diajak urun rembug tentang kegelisahan ini. Kalau dihitung,kurang dari sepuluh orang kawan yang bisa saya ajak bicara tentang pentingnya organisasi dalam upaya melindungi hak-hak pekerja. Saya tahu,ide ini cukup berbahaya. Ya, sejak zaman pendiri bangsa ini dulu, organisasi bisa menginspirasi orang-orang untuk memberontak.

Pemberontak lazimnya anti kemapanan. Nah, di tempat ini sebagian besar pekerjanya adalah mereka yang tak mau keluar dari zona nyaman.Mereka yang tak terpikir atau membuang jauh-jauh pikiran untuk memberontak. Tak ada yang salah dengan itu. Berorganisasi atau tidak,itu adalah hak. Sayangnya ketika hak itu diklaim sebagai larangan untuk membentuk organisasi, saya menyebutnya pengebirian hak asasi manusia untuk berserikat,berkumpul,dan berpendapat.

Seorang kawan, dia alumnus Sosiologi PTN di Bandung, mengatakan bahwa dirinya memutuskan bergabung dengan para korporat negeri ini. Saya kira dia becanda,ternyata tidak. Dia sungguh-sungguh dengan ide korporat itu. Jadi, ya sudah,saya berjalan sendiri saja.

Beberapa hari lalu sempat terpikir untuk membentuk koperasi saja. Menurut hemat saya, koperasi bisa menjadi jembatan membentuk serikat pekerja. Yup, itu yang dibutuhkan agar hak-hak pekerja didengar dan diakui direksi. Saya pun mencari informasi serba-serbi koperasi. Tidak sulit prosedur pembentukannya. Mungkin pertimbangan dana yang dibutuhkan untuk mengurus izin lembaga yang agak rumit. Rp 1,5 juta siapa yang mau menanggungnya? patungan saja bisa sebenarnya.

Namun, masalah tak berhenti sampai di dana mengurus izin. Masalah lain muncul dari pertanyaan seorang rekan,”Nanti siapa yang akan mengurus koperasinya,Bu?” Ups!hal yang tak terpikirkan sebelumnya. Kami perlu orang untuk mengurus koperasi. Iya ya siapa?pengajar nggak mungkin karena tugas mengajar dan penugasan lain yang sama repotnya.

Di titik ini saya mulai bisa memahami penyebab tak pernah ada koperasi di tempat ini. Tak ada organisasi meskipun hak-hak sebagai pekerja seringkali dizhalimi. Akhirnya, ujung-ujungnya nrimo asal dapur tetep ngepul. Huuft..pragmatisme dunia kerja yang juga mulai menghinggapi diri saya.

Idealisme tetap nomor satu hanya dalam teori.Yang real adalah pragmatis. Silence is gold demi asap dapur agar tetap ngepul. “We don’t have much time” itu alasan utama mengapa hingga hari ini tak ada kawan yang punya waktu luang memprakarsai lahirnya organisasi pekerja. Baik semacam koperasi maupun yang sudah lebih politis:serikat pekerja. salam

Iklan

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s