Monthly Archives: April 2012

Melek Kesehatan

Standar

Senin biasanya selalu padat. Orang Sunda bilang “riweuh”. Namun, Seninku tidak seperti biasanya, lengang, tanpa jadwal.

Nggak bener-bener lengang sih, masih ada tugas telemarketing yang menunggu dikerjakan. Telemarketing artinya peneleponan. Nah, aku paling malas tugas ini. Membayangkannya saja sudah enggan. Tenang, masih ada waktu lima hari sebelum deadline. Kebiasaan lama yang sulit hilang.

Tumben banget jadwalku hari ini cuma ngajar sekali. Setelah itu menghitung waktu hingga pukul lima sore. Waktunya pulaaang..

Sisa waktu 6,5 jam seperti waktu kosong yang penginnya diisi dengan tidur siang.Halaah..emang bisa?Tadi sempet tidur-tiduran di musala,tapi ga enak lalu segera salat dan kembali ke ruang diskusi.. Ga enak secara moral dan selebihnya karena ga ada temen yang bisa diajak bandel.hehe

Beginilah kesibukan guru bimbel. Mengalir terus tanpa henti sekalipun anak-anak sudah usai ujian. Ups, ujian yang selesai kan baru ujan nasional. Masih ada seleksi masuk SNMPTN,ujian-ujian mandiri yang diselenggarakan PTN atau PTS untuk para lulusan SMA/SMK. Selain itu, anak-anak kelas tiga SMP pun masih punya program persiapan masuk SMA RSBI.

Oleh karena itu, penting bagi para pengajar menjaga staminanya. Suplemen adalah penolong kami selain makanan dan minuman sehat yang bergizi. Sayangnya, itu tinggal kesadaran tak berdaya. Praktiknya, kebanyakan dari kami sering lalai mengonsumsi vitamin. Alasannya karena lupa atau harganya mahal.

Padahal kalau dihitung,harga vitamin yang 30-50rb itu jauh lebih murah dibandingkan biaya ke dokter dan badan yang ga enak diajak ngapa-ngapain. Jadi,melek kesehatan itu penting. Itu berlaku untuk semua stakeholders. Baik pengajar,karyawan,manajer,maupun direksi.

Manifestasi kesadaran kesehatan tiap stakeholder berbeda. Bagi pengajar dan karyawan, ia harus bisa membagi waktunya antara bekerja, dirinya sendiri,dan keluarga.

Nah, manajer dan direksi memegang peranan penting dalam menentukan kebijakan tentang perlindungan kesehatan dan keselamat karyawan dan pengajar.

Sejauh ini, bimbel tempatku mengajar belum mempunyai kebijakan yang mengatur perlindungan kesehatan dan keselamatan pekerjanya,

Direksi dan manajer masih berprinsip,”Your health is your bussiness.” Owh…dengan kata lain, kami harus cerdas menyisihkan gaji untuk membayar premi asuransi dan menyediakan suplemen agar sehat dan segar senantiasa.

Iklan

Sedikit Kesibukan Pra-UN

Standar

Hari Minggu yang lumayan sibuk. Pagi mendadak harus pergi setelah terima berita duka dari teman SMP. Alhasil, aku yang ingin sedikit lebih lama bermalas-malasan di tempat tidur harus bergegas mandi. Ups, ternyata ibu belum mencuci piring-piring kotor sejak semalam. Waktu menunjukkan pukul 06.45. Masih ada 45 menit sebelum pukul 07.30,waktu yang kusepakati dengan Fitry dan Iwan. Bergegas kubersihkan piring-piring kotor itu. Waduh! sudah pukul 07.10. Terpaksa deh nggak mandi hehe..

Di tengah perjalanan, saat kami muter-muter cari lokasi rumah duka, sms-sms mulai masuk. Nomor-nomor hp tak kukenal menyapaku. “Bu, mau tanya kritik apa sih,Bu?” Oo..jadwal konsultasi siaga UN masih berlanjut. Sms-sms lain pun serupa. Pertanyaan yang sama, seputar wacana,sastra,slogan,surat resmi. Bahasan-bahasan yang sering kusampaikan di depan kelas, Humm…menggemaskan! Ke mana aja kalian waktu aku berbusa-busa menjelaskan itu semua??

Namun, ya sudahlah. Aku sudah janji membantu mereka kalau ada soal yang sulit saat belajar di rumah. Mulai dari sms hingga telepon ke rumah. Selama tiga tahun mengajar di tempat ini, baru tahun 2011 aku dekat dengan siswa SMP. Biasanya aku spesialis SMA. Kalau pun bergaul dengan siswa SMP, itu sebatas say hi dan tak perna kuhabiskan waktu dengan mereka.

Di cabang ini, aku lebih banyak bergaul dengan ABG tanggung dan menyelami pemikiran mereka. Beberapa dari mereka bahkan sudah merasa dekat hingga tak henti-hentinya curhat.Pekerjaan ini makin lama makin menarik. Penuh tantangan, selalu ada hal baru yang kutemukan dari setiap peristiwa yang terjadi.

Sukses UN-nya anak-anak! Semoga paragraf-paragaraf itu bersahabat dengan kalian! 🙂

Kali Ini tentang Organisasi

Standar

Ide ini sudah sering muncul sejak tahun pertama saya bergabung dengan bimbel ini. Beberapa kali saya mengomunikasikannya dengan beberapa rekan kerja yang punya kegelisahan sama. Sayangnya, tak pernah bisa mengeksekusinya. Jadilah selama tiga tahun terakhir ide itu meringkuk di dunia ide saya.

Bagaimana pun, harus diakui sulit menemukan kawan sepaham yang bisa diajak urun rembug tentang kegelisahan ini. Kalau dihitung,kurang dari sepuluh orang kawan yang bisa saya ajak bicara tentang pentingnya organisasi dalam upaya melindungi hak-hak pekerja. Saya tahu,ide ini cukup berbahaya. Ya, sejak zaman pendiri bangsa ini dulu, organisasi bisa menginspirasi orang-orang untuk memberontak.

Pemberontak lazimnya anti kemapanan. Nah, di tempat ini sebagian besar pekerjanya adalah mereka yang tak mau keluar dari zona nyaman.Mereka yang tak terpikir atau membuang jauh-jauh pikiran untuk memberontak. Tak ada yang salah dengan itu. Berorganisasi atau tidak,itu adalah hak. Sayangnya ketika hak itu diklaim sebagai larangan untuk membentuk organisasi, saya menyebutnya pengebirian hak asasi manusia untuk berserikat,berkumpul,dan berpendapat.

Seorang kawan, dia alumnus Sosiologi PTN di Bandung, mengatakan bahwa dirinya memutuskan bergabung dengan para korporat negeri ini. Saya kira dia becanda,ternyata tidak. Dia sungguh-sungguh dengan ide korporat itu. Jadi, ya sudah,saya berjalan sendiri saja.

Beberapa hari lalu sempat terpikir untuk membentuk koperasi saja. Menurut hemat saya, koperasi bisa menjadi jembatan membentuk serikat pekerja. Yup, itu yang dibutuhkan agar hak-hak pekerja didengar dan diakui direksi. Saya pun mencari informasi serba-serbi koperasi. Tidak sulit prosedur pembentukannya. Mungkin pertimbangan dana yang dibutuhkan untuk mengurus izin lembaga yang agak rumit. Rp 1,5 juta siapa yang mau menanggungnya? patungan saja bisa sebenarnya.

Namun, masalah tak berhenti sampai di dana mengurus izin. Masalah lain muncul dari pertanyaan seorang rekan,”Nanti siapa yang akan mengurus koperasinya,Bu?” Ups!hal yang tak terpikirkan sebelumnya. Kami perlu orang untuk mengurus koperasi. Iya ya siapa?pengajar nggak mungkin karena tugas mengajar dan penugasan lain yang sama repotnya.

Di titik ini saya mulai bisa memahami penyebab tak pernah ada koperasi di tempat ini. Tak ada organisasi meskipun hak-hak sebagai pekerja seringkali dizhalimi. Akhirnya, ujung-ujungnya nrimo asal dapur tetep ngepul. Huuft..pragmatisme dunia kerja yang juga mulai menghinggapi diri saya.

Idealisme tetap nomor satu hanya dalam teori.Yang real adalah pragmatis. Silence is gold demi asap dapur agar tetap ngepul. “We don’t have much time” itu alasan utama mengapa hingga hari ini tak ada kawan yang punya waktu luang memprakarsai lahirnya organisasi pekerja. Baik semacam koperasi maupun yang sudah lebih politis:serikat pekerja. salam

Gaji Oh Gaji

Standar

Selalu ada kasak-kusuk setiap jelang tanggal 1 tiap bulan. Kasak-kusuk yang merata terjadi di seluruh cabang bimbingan belajar kami. “Sudah gajian belum?” Terlebih bulan ini, tanggal 1 jatuh pada hari Minggu. Makin panjang penantian itu terasa. Huaah..

Kemarin, tanggal 30 Maret, saya dan beberapa orang teman lewat di depan ATM Bank dekat kantor. Antreannya cukup panjang. Hm..rasa iri menyergap kami. “Tuh, yang lain sudah masuk gajinya,kita masih lama.Kapan sih gajian teh?”gerundel Bu YS, pengajar bahasa Inggris.

“Tenang Bu, paling hari Minggu sudah masuk,” hibur Bu RY,pengajar Biologi. Saya hanya senyum-senyum dalam diam. Meski sama sebalnya, saya pasrah kalau gaji harus turun tanggal 2 April minggu depan.

Hari ini, karena tak sabar kapan gaji datang,sementara isyu yang beredar membuat hati makin bimbang. Teman saya langsung menelepon kabag keuangan. ” Bu, gaji turunnya kapan ya?” tanyanya begitu basa basi selesai.

“Tanggal 2 April,Bu,” nada kabag keuangan terasa dingin di hatinya.

“Owh..2 April..masih lama,” ujar Bu YS menghitung lima jarinya.

Kami semua tersenyum malang. Ah, adakah senyum malang?hehe..Yang pasti beginilah hari-hari akhir bulan saat penantian gaji tak kunjung datang. Menghitung sisa uang di dompet;mengendalikan nafsu belanja yang menyeruak kuat.

Dari buku manajemen keuangan yang pernah saya baca, ditulis bahwa kebiasaan mengetatkan ikat pinggang di akhir bulan adalah cermin pengelolaan keuangan yang buruk. Ups! Jadi, berapa banyak pekerja di negeri ini yang tidak mengetatkan ikat pinggang setiap akhir bulan? Saya yakin persentasenya pasti lebih besar ketimbang mereka yang tetap santai menyikapi tanggal-tanggal akhir bulan berjalan.