Dua Prinsip Kuliner Sri Rahayu : Halal dan Sehat

Standar

Yang paling saya ingat tentang Sri Rahayu adalah ceritanya tentang makanan halal di Denpasar, kota tempat tinggalnya. Waktu itu, kami sedang berbincang banyak hal di grup arisan link Blogger Perempuan. Perempuan kelahiran Jakarta ini men-share foto kios masakan berbahan dasar daging celeng di salah satu pusat keramaian di Kota Denpasar.

Hal yang menarik dari foto itu adalah tulisan haram yang tertulis jelas di salah satu bagian muka kios. Sri Rahayu memuji cara pedagang makanan itu mempomosikan dagangannya. “Begini seharusnya berjualan. Jelas yang haram dan halal agar tidak ada pihak yang tertipu,”ujarnya.

Karakternya yang tegas tecermin dari sikap dan komentarnya dalam berinteraksi dengan perbedaan pandangan tentang kehalalan produk makanan dan minuman. Karena ketegasannya, ia harus berhadapan dengan  pihak yang tak menyukai sikapnya tersebut. Namun, istri Judistiro Setyonegoro ini bergeming. Ia tetap berjuang menyuarakan kebenaran dan kejujuran tentang makanan halal dan haram.

Sebenarnya, sikap Sri Rahayu ini wajar. Siapa yang akan memperjuangkan haknya sebagai warga minoritas yang tidak makan daging celeng di Kota Denpasar jika bukan dirinya sendiri. Namun demikian, perjuangan itu harus didukung oleh banyak hal, tidak sekadar vokal dalam bersikap.

Oleh karena itu, agar lebih nyaman dan aman mengonsumsi makanan,  ibu dua anak ini memilih lebih rajin memasak. Selain karena memasak baginya menjadi cara untuk mengusir sepi, memasak juga menjaga dirinya dan keluarga dari mengonsumsi makanan atau minuman tidak halal yang tersamar saat sedang di luar rumah. Lambat laun hobi memasaknya ini berkembang menjadi usaha kuliner rumahan.

sri rahayu

Berfoto bersama Chef Degan di acara Chef Kitchen (www.istanabundavian.com)

Hobi memasak yang ditekuni sarjana pertanian ini pun membawanya ke banyak acara kuliner, baik sebagai food tester maupun undangan menghadiri demo masak eksklusif yang diadakan di kota tempat tinggalnya. Berbagai acara bertema kuliner yang diikutinya semakin mengasah kemampuan dan wawasan Sri Rahayu di dunia ini. Ia takhanya pandai memasak, ia pun mulai mahir menggunakan peralatan memasak canggih agar masakannya tetap lezat dan sehat, tetapi diselesaikan dalam waktu singkat.

Kesadarannya tentang makanan halal dan sehat membuatnya bercita-cita mempunyai klinik kesehatan berbasis TOGA, tanaman obat keluarga. Sebuah klinik kesehatan yang meracik sendiri obat-obatan yang dipetik langsung dari kebun. Cita-cita mulia, semoga kelak terlaksana…

 

Renungan dalam Ocehan Ade Anita

Standar

Membaca ocehan Ade Anita dalam www.adeanita.com adalah membaca renungannya terhadap berbagai peristiwa kehidupan.

Renungan – renungan Ade disampaikan dalam gaya bahasa sederhana dan ringan. Karena itu, cerita -ceritanya mudah dicerna dan menarik untuk dibaca. Beberapa tulisannya yang saya baca, seperti Semua Istri Baik, Hanya . . . ; Kebaikan Yang Bisa Kita Ajarkan Pada Anak; dan Jodoh Dicari Bukan Dinanti  menceritakan hasil pengamatannya terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarnya.

mahmer header pink_1 (1)

doc:www.adeanita.com

Ade menyebut tulisan-tulisannya sebagai ocehan. Layaknya sebuah ocehan, takperlu terlalu risau dengan gaya bahasa atau aturan EYD yang mengikat. Ia menulis dalam gaya bahasa bertutur yang santai. Karena itu, pembaca blognya merasa seperti mendengarkan Ade bercerita bukan membaca ceritanya.

Terus menulis,Mbak Ade. Menulis membuat hidup terasa lebih hidup🙂

 

Evrina The Explorer

Standar

Begitu membuka www.evrinasp.com saya disuguhi foto -foto cantik petualangannya di berbagai gunung dan berbagai tempat. Tas ransel, jaket, dan penutup kepala yang selalu dikenakannya di setiap kegiatan mengingatkan saya pada sosok bocah kecil lucu yang senang bertualang bersama  Boot, sahabat kecilnya, dan peta di ranselnya.

evrina-profile

doc :evrinasp.com

rinjani

doc: evrinasp.com

 

Evrina Budi Astuti menata blognya dengan serius. Ia membagi setiap tulisan berdasarkan tema. Ada berbagai tema di blognya. Tema – tema itu mempunyai benang merah, yaitu lingkungan hidup. Mulanya, saya tertarik pada petualangan Evrina dari gunung ke gunung. Ternyata, petualangannya takhanya seputar gunung, ia juga menciptakan petualangan saat harus liburan di rumah. Apa yang dilakukannya? Ia mendirikan tenda! Karena itu, judul tulisan ini pun saya rasa tepat dilekatkan padanya: Evrina The Explorer .^_^

Kecintaannya pada alam semesta beriringan dengan profesinya sebagai Penyuluh Pendamping Lapangan Bidang Pertanian (PPLBP). Dalam blognya, ia banyak menulis tentang pelestarian lingkungan. Meskipun tidak khusus membahas bidang pertanian, pengalamannya di dunia agriculture memberinya ilmu bermanfaat dan kepedulian terhadap global warming yang sudah bukan lagi sebagai isyu, melainkan realitas.

juara lomba

doc : evrinasp.com

Kegiatan dan karya ibu muda yang langganan memenangi lomba blog ini patut diacungi jempol. Kepeduliannya pada pelestarian alam semesta yang diwujudkan dalam tulisan dan petualangan bisa menjadi teladan bagi kita bahwa banyak hal berguna yang bisa dilakukan untuk semesta dan sesama.

Sang Aktivis

Standar

Namanya amat populer di komunitas menulis, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Ketiklah nama naqqiyah syam di mesin perambah Google. Kita akan membaca namanya ada di banyak laman. Sebutlah sedikit kesibukan dari sekian banyak kegiatannya atau sebutan yang melekat padanya : mantan Ketua FLP Lampung, BPP FLP Pusat, writerpreneur, dan Ratu Antalogi Sumatera. Yang terakhir itu wow banget, hehehe.. Ibu dari dua jagoan cilik ini memang sudah terlibat kurang lebih dalam tiga puluh buku antologi. Karena itu, wajar jika ada yang memberinya gelar Ratu Antologi Sumatera. Mantap, Mbak *dua jempol*

naqisyam

Saya berteman dengannya di Facebook sejak tahun 2011. Kami memang takpernah saling menyapa secara pribadi, tapi saya sering membaca status – statusnya di Facebook. Selain status yang ditulisnya, saya juga membaca berbagai kegiatan yang diikutinya di banyak tempat dari kabar -kabar yang men-tag-nya di laman Facebook. Begitulah, meskipun tak saling kenal dalam arti sesungguhnya, saya merasa sudah akrab dengan naqqiyah syam. Itulah efektivitas kerja media sosial. Peribahasa tak kenal maka tak sayang mungkin bisa diganti dengan tak kenal pun bisa sayang, hehehe . . .

Perempuan kelahiran Jambi ini beberapa bulan lagi akan genap berusia 36 tahun. Kalau menurut versi Sukarno, Sang Proklamator, perempuan usia 36 tahun itu seperti India. Mereka menyembunyikan banyak sekali kisah misterius. Mungkin di perjalanan usia ke – 36 tahun, Naqqiyah Syam akan semakin cemerlang menggali potensinya dari sekian banyak kisah misterius yang ia punya, disadari atau tidak. Maju terus Mbak Naqqi! Teruslah menulis dan membagi karya – karya inspiratif untuk peradaban dan kemanusiaan.

 

Remaja Menulis

Standar

Hari ini saya mengajar di kelas XI IPA. Temanya tentang film. Sayangnya, saya lupa membawa film yang akan kami tonton di kelas. Rencananya saya akan mengajak siswa kelas XI IPA menonton film keren Dead Poet Society yang dibintang aktor hebat almarhum Robin William.

Sejenak saya menimbang – nimbang apa yang harus saya lakukan di kelas agar materi film ini menarik. Saya harus mencari cara lain karena beberapa minggu lalu, kami baru saja belajar drama. Sementara pokok bahasan film pun sama dengan pokok bahasan drama di dua bab ini. Keduanya membahas tentang unsur – unsur intrinsik dan ekstrinsik. Isinya tetap sama.

Saya pikir jika saya membahas film dengan materi yang sama seperti saat membahas drama, siswa akan bosan. Setelah memutar otak, saya putuskan meminta siswa menceritakan kembali film yang mereka tonton.

Agar rencana berjalan lancar, saya menyediakan berlembar -lembar kertas untuk mereka. Kalau mereka diminta mengeluarkan kertas sendiri, alasannya pasti banyak dan rata -rata akan bilang,”Wah, nggak punya kertas,Bu.”

Saat saya minta mereka menceritakan kembali film paling berkesan yang pernah ditontonnya, ada yang menawar untuk bercerita secara lisan saja. Nah kalau lisan, yang ada hanya segelintir orang akan bercerita panjang lebar. Siswa – siswa pendiam hanya akan bercerita dalam sepatah dua patah kata. Kalau ingin para pendiam ini bercerita banyak, saya harus bertindak seperti pewawancara. Bertanya ini itu agar mereka mau menggali kenangannya.

Ide meminta para siswa menulis ternyata ide bagus, menurut saya sih.hehehe…Ketika kertas sudah diterima, semua siswa fokus menulis menuangkan ingatan dan kesan – kesannya.

kelas menulis.jpg

doc.pribadi.

Melihat mereka menulis rasanya hati saya adem sekali. Yah, meskipun ada yang mendadak googling untuk merefresh kembali film yang pernah ditontonnya, saya mengapresiasi usahanya.  Sayang, saya tak sempat memotret hasil tulisan mereka. Oh ya, dua orang di belakang yang sedang mengobrol itu sudah menyelesaikan tulisannya. Jadi, saya biarkan mereka berbisik – bisik bercerita.

Remaja memang seharusnya menulis. Di usia full energy ini, mereka pasti punya banyak kegelisahan, keinginan, harapan, dan imajinasi yang mungkin melampaui ruang dan waktu. Sayang sekali jika gagasan -gagasan brilian menguap begitu saja.

2iparb2

doc.pribadi

Mengamati wajah – wajah serius mereka menggerakkan pena atau pensilnya membuat saya membangun harapan besar pada para calon pemimpin ini. Di pundaknya, 10 -15 tahun yang akan datang, negeri ini dititipkan.

Saya selalu yakin dengan menulis kita bisa belajar mengenali diri sendiri. Karena saat menulis, kita berdialog dengan diri sendiri. Menulis tidak sekadar bercerita, menulis adalah media meluruskan logika berpikir, memperkaya kosa kata, dan menyusunnya dengan sistematis.  Karena bagi saya, tak ada yang tak bisa dijelaskan dengan kata -kata. . .

Ernawati Lilys, Aku Menulis maka Aku Ada

Standar

Banyak cara agar bisa eksis di dalam kehidupan, salah satunya lewat tulisan. Banyak orang populer karena tulisan, salah satunya adalah Ernawati Lilys. 

Tulisannya bisa dibaca secara rutin di ernawatililys.com Ibu dua anak ini menuangkan sebagian pemikirannya di blognya itu.  Sebagian pemikirannya yang lain bisa dibaca di banyak buku yang sudah terbit, di media cetak, dan di laman. Erna, biasa ia disapa, pun mengarsipkan semua karya dalam blognya.

Panglima tangguh

doc. http://www.ernawatililys.com

 

Cover_Kuliah vs Kuli-ah

doc. ernawatylilys.com

 

Wanita kelahiran Kota Hujan ini memang sangat aktif. Ia tak ingin membiarkan ide -ide yang lalu lalang di hati dan pikirannya menguap begitu saja. Oleh karena itu, di samping tugas utamanya sebagai istri dan ibu, Erna mengisi waktu luangnya dengan beragam kegiatan menulis. Ia menulis buku fiksi dan nonfiksi, mulai dari buku anak – anak, remaja hingga parenting.

“Aku menulis maka aku ada” menjadi gambaran aktivitas menulis Erna. Dengan menulis, Erna mengukuhkan keberadaan dirinya. Dengan menulis, ia menyampaikan harapan – harapannya pada dunia.

foto ernawatililys

Menulis sebenarnya bukan hanya sebagai cara menuangkan ide, harapan, atau pemberitahuan eksistensi, melainkan juga sebagai terapi psikis yang efektif. Kegiatan menulis sangat membantu kita melepaskan energi negatif sehingga hati dan pikiran kembali lapang. Mengapa? Karena saat menulis, sebenarnya kita sedang berdialog dengan diri sendiri. Agar dialognya berhasil, menulislah dengan jujur.

Seorang bijak pernah berkata, “Menulislah dengan hati lalu sunting kemudian dengan pikiran.” Tuliskan apa saja yang ada di benak kita. Tulis saja tanpa harus mempertimbangkan pilihan kata, susunan kalimat, EYD, kata baku, dan sebagainya. Ketika tulisan sudah selesai, endapkan dulu lalu sunting dengan pikiran untuk mencermati pilihan kata yang bernas dan pas.

Karenanya, mari menulis. Kita tuangkan semua gagasan dalam tulisan agar tak menguap bersama udara. Agar hati lapang, pikiran tenang, dan logika pun jalan.

 

Friends Are Connected

Standar

friendshipMalam ini, setelah blog walking, iseng kuketik namaku di mesin pencari Google. Ada beberapa foto yang kupasang di Kompasiana, di WordPress, dan Facebook. Namaku sendiri sebagian besar tercatat di beberapa keanggotan komunitas yang sebagian besar sudah terbengkalai tak pernah kujenguk lagi. Selain itu, namaku muncul di beberapa toko buku online. Ya iyalah, toko – toko buku itu menjual beberapa buku tulisanku dan buku kumpulan soal SBMPTN hasil kerja bareng tim.

Kutelusuri lagi, kutemukan ada namaku di blog seorang sahabat lama. Hal menarik dari cerita pertemuanku sekira lima tahun lalu itu adalah komentarnya tentangku. Katanya, “ Itulah seorang Sugi Siswiyanti. Seorang kawan yang hidupnya sangat penuh perjuangan dan kekeraskepalaan dengan prinsipnya sendiri haha..”

Komentar yang hanya satu kalimat itu pelan melemparku ke kenangan masa lalu. Kenangan nyaris tujuh tahun lewat. Ia teman baikku. Kusebut teman baik, sahabat lama, atau adik. Sebenarnya sih aku yang lebih sering kekanak – kanakan ketimbang dia meski seringnya ia kupanggil “Dede”. Selama hampir dua tahun masa tugasku di kantor cabang Sukabumi, ia lah temanku mengisi sebagian waktu di ratusan hari itu. Teman berbagi keluh kesah, harapan, impian, dan teman yang kadang menegurku dengan sangat keras. Teman yang asyik dan menyebalkan sekaligus. Teman jalan dan teman duduk. Kedekatan kami ini menimbulkan dugaan teman –teman kantor kalau ada hal istimewa di antara kami. Aku sih santai menyikapi itu, gosip itu kuanggap angin lalu. Kukira ia pun begitu. Ternyata meskipun tak menganggapnya serius, ia mencatat gosip itu dalam hati.

Selama bekerja di tempat ini, berpindah – pindah dari kota ke kota, selain dia, ada seorang lagi yang kupanggil ‘Adek”. Adek yang ini teman sekantorku sekarang. Ini panggilan tulus karena aku merasa orang –orang ini memang adik sekaligus teman baik. Jadilah dua orang yang kulekatkan panggilan “Adek” pada mereka : AM dan VY.

Kalau VY, panggilan itu kulekatkan karena ia memanggilku “ Teteh” sejak ia sering bertanya tentang apa itu Filsafat dan mengapa aku memilih belajar Filsafat di bangku kuliah. Setelah itu, kami bisa mengobrol tentang apa saja, tentang banyak hal, yang penting ataupun tidak. Aku baru tau nama aslinya setelah sekian bulan atau malah setahun kemudian ya? Lupa, hehehe…Meskipun sekarang sudah tahu nama aslinya, aku tetap memanggilnya Dek VY. Alasannya tidak ideologis: lebih singkat saja ^^

Sementara panggilan Dede kepada AM karena ikutan orang –orang rumahnya yang memanggilnya demikian. Jadi, bertahun – tahun silam, AM pernah mengajakku bertandang ke rumahnya. Aku lupa dalam rangka apa waktu itu. Sore sepulang kantor, ia mengajakku ke rumahnya dia daerah apaa gitu di Sukabumi. Kami naik angkot sebentar kalau ga salah. Setelah turun angkot, kami menyusuri gang yang berkelok – kelok sebelum tiba di rumahnya.

Ibunya menyambutku dengan ramah. Bapaknya biasa saja khas bapak –bapak pada umumnya, cool. Aku lupa berapa kali ke rumahnya. Kalau ga salah ingat, aku pernah istirahat di kamarnya sepulang jalan – jalan dari Curug Sawer. Wallahualam, ingatan datang dan pergi, simpang siur terutama berbagai peristiwa di Sukabumi. Kenangan tentang kota itu campur aduk rasanya. Langkah awalku memutuskan hal mahapenting dalam hidup yang membuat perjalananku seperti sekarang ini.

Anyway, balik lagi ke kisah Dede AM. Ibunya mengira aku adalah pacarnya karena katanya baru kali itu ia mengajak teman perempuan ke rumahnya. Aku cuma nyengir dan tertawa geli waktu dia cerita tentang itu. Kami sangat dekat. Seorang teman pernah bilang kalau ia bergabung dengan kami, ia merasa kami seperti punya dunia sendiri. Ia merasa ada di ruangan berbeda meski sebenarnya ia ada di samping kami. Aku tak merasakan demikian. Yang kurasakan ia teman ngobrol yang seru. Teman ngobrol apa saja mulai dari hal serius sampai hal sangat privat.

foto sukabumi

Baginya, mungkin aku pun demikian. Kami punya cerita super rahasia yang hanya kami berdua yang tau. Cerita yang memang hanya bisa dibagi dengan sahabat tepercaya. Dan buatku, dia orang yang sangat tepat. Dia takpernah menjudge meski kalau komen kadang pedes dan bikin panas telinga. Begitu pula denganku, apa pun yang pernah dilakukannya, aku tak pernah menjudge dia begini begitu. Mungkin saking shocknya denger cerita hidupnya sampai ga bisa menjudge. Hahaha..

Kami taklagi intens berbagi cerita setelah aku meninggalkan Sukabumi tahun 2010. Beberapa bulan kemudian, ia mendapat pekerjaan baru dan pindah dari tempat kami bekerja. Bertahun- tahun kemudian, kami benar – benar sibuk dengan hidup masing – masing. Sesekali kulihat foto –foto jalan – jalannya ke berbagai tempat. Aku jadi ingat impian dan harapannya dulu. Kulihat satu demi satu diwujudkannya impian dan harapan itu. Bahagia dan bangga melihatnya meski kadang sebel juga soalnya ia takpernah menyapaku kecuali ada hal luar biasa penting yang akan disampaikan.

Dugaanku bener juga. Selain pesan Whatsapp-nya yang mengomentari foto profil keluarga kecilku di sana, Februari lalu ia mengabari sudah bertunangan. “Resepsinya Mei. Kamu harus datang,” undangan itu membuatku tersenyum bahagia. Alhamdulillah, pengganti kenangan itu sudah ditemukan. Kuusahakan datang ke hari bahagianya. Sebagai sahabat, sebagai mantan teman kerja, dan sebagai orang yang pernah sebentar jatuh cinta padanya. Untuk yang terakhir, sepertinya dia tidak menyadari itu. Tidak penting maka wajar tak disadari hehehe …