Energi Berlimpah Jiah Al Jafara

Standar

Jiaah! Sepotong kata yang biasanya muncul saat kita kaget atau terkesima terhadap suat hal atau peristiwa yang terjadi. Ternyata istilah ‘jiaah” ini tak sekadar ekspresi kaget, tapi ia pumya makna khusus bagi gadis manis asal Jepara. Ia memilih nama Jiah sebagai nama udaranya. Jiah al Jafara begitu ia menulis namanya.

Mulanya saya kira Jiah ini seusia saya atau sedikit lebih muda. Karena itu, saya memanggilnya Mbak Jiah. Setelah cukup lama, membaca banyak obrolan di grup arisan blogger kami, barulah saya tahu kalau Jiah lebih pas dipanggil Dik Jiah.

Gadis  kelahiran Jepara ini menyimpan energi yang luar biasa. Dengan gaya bicara ceplas-ceplos, ia tampil apa adanya. Matanya yang tajam, lesung pipit, dan kulit hitam manis memberi pesan tersirat keyakinannya terhadap impian dan harapan hidup yang ingin diraihnya.

Photo:

doc.jiah.my.id

Saya mengenalnya belum lama, masih kurang dari setahun. Pun belum pernah berjumpa secara langsung.  Kami juga belum pernah berkomunikasi membahas suatu hal secara intens. Komunikasi kami biasanya terjalin di grup Whatsapp.  Komunikasi massif, yaitu obrolan yang terjadi antara beberapa orang dan sahut menyahut.

Obrolan dalam grup meskipun terjadi secara massif, sahut-menyahut seperti itu, tetap bisa menunjukkan karakter setiap orang. Ada yang karakternya cerewet, pendiam, suka curhat, sedikit galak, atau yang ceplas-ceplos cuek pun tampak di sana.

Jiah termasuk pada  tipe ceplas-ceplos cuek. Sekalipun untuk sebagian orang karakter di dunia maya dengan di dunia nyata bisa berbeda, dalam pandangan saya, gadis ini konsisten dengan karakternya di semua kesempatan. Ia bisa menjadi teman baik yang menyenangkan di semua suasana.

Beberapa kali saya singgah di www.jiah.my.id. Di “rumah”nya ini, ia berbagi cerita tentang impian-impiannya. Melalui tulisan-tulisannya tentang berbagai hal, tersirat gadis ini berpola pikir maju dan terbuka. Pola pikir yang mendorongnya bercita-cita bisa travelling ke banyak tempat di Nusantara ini. Tentu setelah Nusantara dijelajahi, ia akan mengembangkan sayap mengunjungi tempat-tempat indah dan asyik di mancanegara.

Saya mengagumi semangat dan kepercayaan dirinya.  Jiah seperti menyerap energi Kartini, pahwalan emansipasi wanita yang juga berasal Jepara. Semangat dan energinya meraih cita-cita menggambarkan perjuangan Kartini tidak sia-sia. Sebagai blogger, jam terbangnya sudah tak diragukan lagi. Sebagai individu, ia pasti punya pencapaian-pencapaian yang membuat diri dan keluarganya bangga. Tinggal satu hal yang masih dalam penantiannya, yaitu sosok pangeran yang akan mendampinginya mengisi hari-harinya.

Mungkin kelak jika saat itu tiba, ketika pinangan datang menghampirinya, banyak kolega yang akan berkata,”Jiaah! Akhirnya sang pangeran datang juga. Pangeran untuk gadis manis berlesung pipit dari Jepara.”Semoga Tuhan memberkahi setiap doa yang menyertai langkahmu ya,Dik J. ^_^

 

 

Dua Prinsip Kuliner Sri Rahayu : Halal dan Sehat

Standar

Yang paling saya ingat tentang Sri Rahayu adalah ceritanya tentang makanan halal di Denpasar, kota tempat tinggalnya. Waktu itu, kami sedang berbincang banyak hal di grup arisan link Blogger Perempuan. Perempuan kelahiran Jakarta ini men-share foto kios masakan berbahan dasar daging celeng di salah satu pusat keramaian di Kota Denpasar.

Hal yang menarik dari foto itu adalah tulisan haram yang tertulis jelas di salah satu bagian muka kios. Sri Rahayu memuji cara pedagang makanan itu mempomosikan dagangannya. “Begini seharusnya berjualan. Jelas yang haram dan halal agar tidak ada pihak yang tertipu,”ujarnya.

Karakternya yang tegas tecermin dari sikap dan komentarnya dalam berinteraksi dengan perbedaan pandangan tentang kehalalan produk makanan dan minuman. Karena ketegasannya, ia harus berhadapan dengan  pihak yang tak menyukai sikapnya tersebut. Namun, istri Judistiro Setyonegoro ini bergeming. Ia tetap berjuang menyuarakan kebenaran dan kejujuran tentang makanan halal dan haram.

Sebenarnya, sikap Sri Rahayu ini wajar. Siapa yang akan memperjuangkan haknya sebagai warga minoritas yang tidak makan daging celeng di Kota Denpasar jika bukan dirinya sendiri. Namun demikian, perjuangan itu harus didukung oleh banyak hal, tidak sekadar vokal dalam bersikap.

Oleh karena itu, agar lebih nyaman dan aman mengonsumsi makanan,  ibu dua anak ini memilih lebih rajin memasak. Selain karena memasak baginya menjadi cara untuk mengusir sepi, memasak juga menjaga dirinya dan keluarga dari mengonsumsi makanan atau minuman tidak halal yang tersamar saat sedang di luar rumah. Lambat laun hobi memasaknya ini berkembang menjadi usaha kuliner rumahan.

sri rahayu

Berfoto bersama Chef Degan di acara Chef Kitchen (www.istanabundavian.com)

Hobi memasak yang ditekuni sarjana pertanian ini pun membawanya ke banyak acara kuliner, baik sebagai food tester maupun undangan menghadiri demo masak eksklusif yang diadakan di kota tempat tinggalnya. Berbagai acara bertema kuliner yang diikutinya semakin mengasah kemampuan dan wawasan Sri Rahayu di dunia ini. Ia takhanya pandai memasak, ia pun mulai mahir menggunakan peralatan memasak canggih agar masakannya tetap lezat dan sehat, tetapi diselesaikan dalam waktu singkat.

Kesadarannya tentang makanan halal dan sehat membuatnya bercita-cita mempunyai klinik kesehatan berbasis TOGA, tanaman obat keluarga. Sebuah klinik kesehatan yang meracik sendiri obat-obatan yang dipetik langsung dari kebun. Cita-cita mulia, semoga kelak terlaksana…

 

Renungan dalam Ocehan Ade Anita

Standar

Membaca ocehan Ade Anita dalam www.adeanita.com adalah membaca renungannya terhadap berbagai peristiwa kehidupan.

Renungan – renungan Ade disampaikan dalam gaya bahasa sederhana dan ringan. Karena itu, cerita -ceritanya mudah dicerna dan menarik untuk dibaca. Beberapa tulisannya yang saya baca, seperti Semua Istri Baik, Hanya . . . ; Kebaikan Yang Bisa Kita Ajarkan Pada Anak; dan Jodoh Dicari Bukan Dinanti  menceritakan hasil pengamatannya terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarnya.

mahmer header pink_1 (1)

doc:www.adeanita.com

Ade menyebut tulisan-tulisannya sebagai ocehan. Layaknya sebuah ocehan, takperlu terlalu risau dengan gaya bahasa atau aturan EYD yang mengikat. Ia menulis dalam gaya bahasa bertutur yang santai. Karena itu, pembaca blognya merasa seperti mendengarkan Ade bercerita bukan membaca ceritanya.

Terus menulis,Mbak Ade. Menulis membuat hidup terasa lebih hidup🙂

 

Evrina The Explorer

Standar

Begitu membuka www.evrinasp.com saya disuguhi foto -foto cantik petualangannya di berbagai gunung dan berbagai tempat. Tas ransel, jaket, dan penutup kepala yang selalu dikenakannya di setiap kegiatan mengingatkan saya pada sosok bocah kecil lucu yang senang bertualang bersama  Boot, sahabat kecilnya, dan peta di ranselnya.

evrina-profile

doc :evrinasp.com

rinjani

doc: evrinasp.com

 

Evrina Budi Astuti menata blognya dengan serius. Ia membagi setiap tulisan berdasarkan tema. Ada berbagai tema di blognya. Tema – tema itu mempunyai benang merah, yaitu lingkungan hidup. Mulanya, saya tertarik pada petualangan Evrina dari gunung ke gunung. Ternyata, petualangannya takhanya seputar gunung, ia juga menciptakan petualangan saat harus liburan di rumah. Apa yang dilakukannya? Ia mendirikan tenda! Karena itu, judul tulisan ini pun saya rasa tepat dilekatkan padanya: Evrina The Explorer .^_^

Kecintaannya pada alam semesta beriringan dengan profesinya sebagai Penyuluh Pendamping Lapangan Bidang Pertanian (PPLBP). Dalam blognya, ia banyak menulis tentang pelestarian lingkungan. Meskipun tidak khusus membahas bidang pertanian, pengalamannya di dunia agriculture memberinya ilmu bermanfaat dan kepedulian terhadap global warming yang sudah bukan lagi sebagai isyu, melainkan realitas.

juara lomba

doc : evrinasp.com

Kegiatan dan karya ibu muda yang langganan memenangi lomba blog ini patut diacungi jempol. Kepeduliannya pada pelestarian alam semesta yang diwujudkan dalam tulisan dan petualangan bisa menjadi teladan bagi kita bahwa banyak hal berguna yang bisa dilakukan untuk semesta dan sesama.

Sang Aktivis

Standar

Namanya amat populer di komunitas menulis, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Ketiklah nama naqqiyah syam di mesin perambah Google. Kita akan membaca namanya ada di banyak laman. Sebutlah sedikit kesibukan dari sekian banyak kegiatannya atau sebutan yang melekat padanya : mantan Ketua FLP Lampung, BPP FLP Pusat, writerpreneur, dan Ratu Antalogi Sumatera. Yang terakhir itu wow banget, hehehe.. Ibu dari dua jagoan cilik ini memang sudah terlibat kurang lebih dalam tiga puluh buku antologi. Karena itu, wajar jika ada yang memberinya gelar Ratu Antologi Sumatera. Mantap, Mbak *dua jempol*

naqisyam

Saya berteman dengannya di Facebook sejak tahun 2011. Kami memang takpernah saling menyapa secara pribadi, tapi saya sering membaca status – statusnya di Facebook. Selain status yang ditulisnya, saya juga membaca berbagai kegiatan yang diikutinya di banyak tempat dari kabar -kabar yang men-tag-nya di laman Facebook. Begitulah, meskipun tak saling kenal dalam arti sesungguhnya, saya merasa sudah akrab dengan naqqiyah syam. Itulah efektivitas kerja media sosial. Peribahasa tak kenal maka tak sayang mungkin bisa diganti dengan tak kenal pun bisa sayang, hehehe . . .

Perempuan kelahiran Jambi ini beberapa bulan lagi akan genap berusia 36 tahun. Kalau menurut versi Sukarno, Sang Proklamator, perempuan usia 36 tahun itu seperti India. Mereka menyembunyikan banyak sekali kisah misterius. Mungkin di perjalanan usia ke – 36 tahun, Naqqiyah Syam akan semakin cemerlang menggali potensinya dari sekian banyak kisah misterius yang ia punya, disadari atau tidak. Maju terus Mbak Naqqi! Teruslah menulis dan membagi karya – karya inspiratif untuk peradaban dan kemanusiaan.

 

Remaja Menulis

Standar

Hari ini saya mengajar di kelas XI IPA. Temanya tentang film. Sayangnya, saya lupa membawa film yang akan kami tonton di kelas. Rencananya saya akan mengajak siswa kelas XI IPA menonton film keren Dead Poet Society yang dibintang aktor hebat almarhum Robin William.

Sejenak saya menimbang – nimbang apa yang harus saya lakukan di kelas agar materi film ini menarik. Saya harus mencari cara lain karena beberapa minggu lalu, kami baru saja belajar drama. Sementara pokok bahasan film pun sama dengan pokok bahasan drama di dua bab ini. Keduanya membahas tentang unsur – unsur intrinsik dan ekstrinsik. Isinya tetap sama.

Saya pikir jika saya membahas film dengan materi yang sama seperti saat membahas drama, siswa akan bosan. Setelah memutar otak, saya putuskan meminta siswa menceritakan kembali film yang mereka tonton.

Agar rencana berjalan lancar, saya menyediakan berlembar -lembar kertas untuk mereka. Kalau mereka diminta mengeluarkan kertas sendiri, alasannya pasti banyak dan rata -rata akan bilang,”Wah, nggak punya kertas,Bu.”

Saat saya minta mereka menceritakan kembali film paling berkesan yang pernah ditontonnya, ada yang menawar untuk bercerita secara lisan saja. Nah kalau lisan, yang ada hanya segelintir orang akan bercerita panjang lebar. Siswa – siswa pendiam hanya akan bercerita dalam sepatah dua patah kata. Kalau ingin para pendiam ini bercerita banyak, saya harus bertindak seperti pewawancara. Bertanya ini itu agar mereka mau menggali kenangannya.

Ide meminta para siswa menulis ternyata ide bagus, menurut saya sih.hehehe…Ketika kertas sudah diterima, semua siswa fokus menulis menuangkan ingatan dan kesan – kesannya.

kelas menulis.jpg

doc.pribadi.

Melihat mereka menulis rasanya hati saya adem sekali. Yah, meskipun ada yang mendadak googling untuk merefresh kembali film yang pernah ditontonnya, saya mengapresiasi usahanya.  Sayang, saya tak sempat memotret hasil tulisan mereka. Oh ya, dua orang di belakang yang sedang mengobrol itu sudah menyelesaikan tulisannya. Jadi, saya biarkan mereka berbisik – bisik bercerita.

Remaja memang seharusnya menulis. Di usia full energy ini, mereka pasti punya banyak kegelisahan, keinginan, harapan, dan imajinasi yang mungkin melampaui ruang dan waktu. Sayang sekali jika gagasan -gagasan brilian menguap begitu saja.

2iparb2

doc.pribadi

Mengamati wajah – wajah serius mereka menggerakkan pena atau pensilnya membuat saya membangun harapan besar pada para calon pemimpin ini. Di pundaknya, 10 -15 tahun yang akan datang, negeri ini dititipkan.

Saya selalu yakin dengan menulis kita bisa belajar mengenali diri sendiri. Karena saat menulis, kita berdialog dengan diri sendiri. Menulis tidak sekadar bercerita, menulis adalah media meluruskan logika berpikir, memperkaya kosa kata, dan menyusunnya dengan sistematis.  Karena bagi saya, tak ada yang tak bisa dijelaskan dengan kata -kata. . .

Ernawati Lilys, Aku Menulis maka Aku Ada

Standar

Banyak cara agar bisa eksis di dalam kehidupan, salah satunya lewat tulisan. Banyak orang populer karena tulisan, salah satunya adalah Ernawati Lilys. 

Tulisannya bisa dibaca secara rutin di ernawatililys.com Ibu dua anak ini menuangkan sebagian pemikirannya di blognya itu.  Sebagian pemikirannya yang lain bisa dibaca di banyak buku yang sudah terbit, di media cetak, dan di laman. Erna, biasa ia disapa, pun mengarsipkan semua karya dalam blognya.

Panglima tangguh

doc. http://www.ernawatililys.com

 

Cover_Kuliah vs Kuli-ah

doc. ernawatylilys.com

 

Wanita kelahiran Kota Hujan ini memang sangat aktif. Ia tak ingin membiarkan ide -ide yang lalu lalang di hati dan pikirannya menguap begitu saja. Oleh karena itu, di samping tugas utamanya sebagai istri dan ibu, Erna mengisi waktu luangnya dengan beragam kegiatan menulis. Ia menulis buku fiksi dan nonfiksi, mulai dari buku anak – anak, remaja hingga parenting.

“Aku menulis maka aku ada” menjadi gambaran aktivitas menulis Erna. Dengan menulis, Erna mengukuhkan keberadaan dirinya. Dengan menulis, ia menyampaikan harapan – harapannya pada dunia.

foto ernawatililys

Menulis sebenarnya bukan hanya sebagai cara menuangkan ide, harapan, atau pemberitahuan eksistensi, melainkan juga sebagai terapi psikis yang efektif. Kegiatan menulis sangat membantu kita melepaskan energi negatif sehingga hati dan pikiran kembali lapang. Mengapa? Karena saat menulis, sebenarnya kita sedang berdialog dengan diri sendiri. Agar dialognya berhasil, menulislah dengan jujur.

Seorang bijak pernah berkata, “Menulislah dengan hati lalu sunting kemudian dengan pikiran.” Tuliskan apa saja yang ada di benak kita. Tulis saja tanpa harus mempertimbangkan pilihan kata, susunan kalimat, EYD, kata baku, dan sebagainya. Ketika tulisan sudah selesai, endapkan dulu lalu sunting dengan pikiran untuk mencermati pilihan kata yang bernas dan pas.

Karenanya, mari menulis. Kita tuangkan semua gagasan dalam tulisan agar tak menguap bersama udara. Agar hati lapang, pikiran tenang, dan logika pun jalan.